Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta mencatat, terakhir per 24 Mei jarak luncurnya mencapai 1.600 meter. Arahnya ke barat daya menuju Kali Bebeng.
"Aktivitasnya masih cukup tinggi untuk gempa vulkaniknya," ungkap Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman Makwan kemarin (25/5).
Tercatat aktivitas kegempaan sebanyak 101 guguran. Dua kali frekuensi rendah, tiga kali vulkanik dangkal, dan tiga kali tektonik jauh. Suara guguran terdengar empat kali dari Pos Babadan di Kabupaten Magelang dengan intensitas sedang.
"Statusnya masih sama, siaga atau level tiga. Dengan potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas," kata Makwan. Utamanya pada sektor selatan-barat daya. Meliput Kali Boyang sejauh maksimal 5 km, Kali Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km.
Selanjutnya pada sektor tenggara meliputi Kali Woro sejauh maksimal 3 km dan Kali Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif, dapat menjangkau radius 3 km dari puncak Merapi. "Masyarakat diimbau agar tidak melakukan kegiatan apa pun di daerah potensi bahaya," pintanya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata Sleman Ishadi Yazid mengatakan, selama di luar radius zona bahaya wisata masih aman. Ia menyebut sejumlah objek wisata di lereng Merapi yang berada di luar potensi bahaya 5 kilometer. Di sebelah timur meliputi petilasan Mbah Maridjan dan di sebelah barat daya di kawasan Tlogoputri, Kaliurang. "Wisatawan yang berkunjung agar tetap waspada dan berhati-hati," bebernya. (mel/laz) Editor : Editor Content