Petani membajak sawah seolah menjadi cerita masa lalu yang sulit ditemukan di wilayah Kulonprogo. Adalah Aziz Wahyu Hidayat, 28, warga Bendungan Lor, Kapanewon Wates, sebagai petani generasi Z ia sudah tidak begitu mengenal membajak sawah menggunakan kerbau atau sapi. Seperti petani pada umumnya, ia lebih mengandalkan traktor untuk mengolah sawahnya.
"Membajak sawah dengan sapi butuh waktu lama. Traktor itu alat teknologi dan tidak butuh waktu lama untuk membajak. Tenaga juga sedikit, kalau bicara kekurangannya mungkin tekstur tanah kurang sempurna, zat hara tidak teraduk rata," ucapnya (19/5).
Petani lain, Ari Surono, 30, mengakui sudah sangat jarang petani menggunakan bajak sapi atau kerbau saat ini. Ia mengatakan, sebetulnya lebih bagus memakai luku (bajak) sapi atau kerbau, karena lebih dalam dan jelas lebih ramah lingkungan.
"Bajak tradisional juga diyakini mampu mempertahankan humus tanah, sehingga kualitas dan produktivitas padi lebih bagus. Kalau traktor kadang limpahan bahan bakar dan oli juga bisa mencemari," ungkapnya. (tom/laz) Editor : Editor Content