Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tradisi Syawalan Versi Masa Kini

Editor Content • Sabtu, 6 Mei 2023 | 13:20 WIB
SEJUK: Desainer Fesyen dari Maguwoharjo, Depok, Sleman Dani Paraswati menunjukkan koleksi tanaman, taman dalam rumah di kediamannya kemarin (23/9).(MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)
SEJUK: Desainer Fesyen dari Maguwoharjo, Depok, Sleman Dani Paraswati menunjukkan koleksi tanaman, taman dalam rumah di kediamannya kemarin (23/9).(MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Tradisi syawalan di bulan Syawal masih menjadi tradisi. Tak terkecuali syawalan trah yang dilakukan oleh masyarakat Jawa guna mempererat persaudaraan. Tidak hanya mengumpulkan saudara dari keluarga kakek-nenek, namun diikuti oleh sanak saudara yang diperhitungkan dengan mengambil salah satu nenek moyang tertentu sebagai pangkal perhitungannya.

Akibat aktivitas masyarakat yang semakin meningkat, jumlah anggota trah yang hadir dalam perkumpulan pun cenderung menurun. Berbagai cara dan upaya dilakukan pengurus trah untuk menarik minat kehadiran anggota keluarga. Baik melalui perubahan manajemen, maupun menambah mata acara dalam syawalan.

KOMPAK: Momen foto bersama saat syawalan trah Bani H Asropun. Digelar setahun sekali, kegiatan ini memanfaatkan momentum Idul Fitri untuk bertemu sanak saudara. Karena pada hari biasa jarang bisa berkumpul bersama. (Rygen K Yudha/Radar Jogja)
KOMPAK: Momen foto bersama saat syawalan trah Bani H Asropun. Digelar setahun sekali, kegiatan ini memanfaatkan momentum Idul Fitri untuk bertemu sanak saudara. Karena pada hari biasa jarang bisa berkumpul bersama. (Rygen K Yudha/Radar Jogja)
Pengurus syawalan trah dari Trah Notosehono, Ika Ningsih.(DOKUMENTASI PRIBADI)

Salah satu anak muda yang berperan dalan acara syawalan trah adalah Ika Ningsih. Baru tahun ini dia ikut mengurus acara syawalan dari Trah Notosehono. Dia pun mengaku, ada perubahan konsep dari acara maupun dalam berbagai aspek pengemasannya. "Ada perbedaan dari tahun-tahun lalu yang diurusi oleh para orang tua," ujarnya.

Menurut Ika dari segi acara, syawalan trah terkesan lebih santai karena menggunakan konsep anak muda. Dan dari segi penataan properti, disebut lebih gemerlap dan lebih cerah. "Ya itu karena berkembangnya zaman maka kita mencoba untuk mengikutinya," katanya.

Dari segi makanan juga berbeda. Lebih memilih menu modern seperti bakso, soto, siomay, dan es krim. Seluruhnya dipesan, dan dirasa lebih efisien dan tidak merepotkan. “Kalau dulu kan orang-orang tua kita sering masak sendiri dan menyiapkannya sendiri. Itu capek dan repot," tuturnya.

Untuk acara, Ika menyebut tidak jauh beda dengan acara sebelumnya. Hal ini karena untuk menghormati orang tua yang terdahulu. Namun untuk MC atau pranatacara, dipilih dengan pembawaan yang lebih santai dan bisa menggunakan bahasa Indonesia."Kalau dulu MC dalam membawakan acara dengan bahasa Jawa halus dan kita kurang mengerti," paparnya.

Hiburan yang disajikan, juga telah mengikuti zaman. Seperti menampilkan pemusik dangdut, hingga pop yang bisa menyanyikan lagi-lagu saat ini. "Ya kalau musik kan lebih asyik sekarang. Dan ketika para keluarga kumpul, mereka juga bisa nyanyi bersama-sama. Pokoknya senang," ucapnya.

Ika pun berharap, acara syawalan trah tetap harus dipertahankan. Karena itu adalah suatu momen untuk berkumpul dengan sanak saudara yang sudah jarang bertemu. (cr2/eno) Editor : Editor Content
#lifestyle #halal bihalal #idul fitri #syawalan #lebaran