Perempuan itu berasal dari Surabaya. Namanya Ratu Pembayun. Dia putri Adipati Surabaya Pangeran Pekik yang baru saja naik takhta. Menggantikan ayahnya Pangeran Jayalengkara yang belum lama wafat. Di kota asalnya, Pembayun sebagai aktivis. Punya banyak kegiatan. Punya keluwesan dalam berkomunikasi. Pribadinya dikenal cerdas.
Sayidin rela apel ke Surabaya tiap akhir pekan. Dia biasa bolak balik Mataram-Surabaya. Tahu hubungan itu, Susuhunan Agung Hanyakrakusuma menanyakan keseriusan putranya. Setelah melalui berbagai proses, pernikahan Sayidin diresmikan pada 1633.
Dalam Babad Sengkala tertulis perkawinan itu berlangsung pada 1556 Jawa. Kala Pangeran Harya Mataram akrama angsal Putri Surabaya. Ketika Pangeran Harya Mataram menikah dengan Putri Surabaya. Acara pernikahan dilangsungkan secara besar-besarnya. Bahkan disebut sebagai perkawinan agung.
Bukan saja agung, perkawinan Sayidin dengan Pembayun itu punya arti politis. Penyatuan keturunan Mataram dengan Surabaya. Tiga tahun sebelumnya pada 1630, Pekik lebih dulu diikat dengan perkawinan dengan adik Sunan Agung, Ratu Pandansari. Sebagai ipar dan besan raja, Pekik kemudian diminta menetap selama beberapa waktu di Mataram.
Saat hendak mengundang Pekik datang ke Mataram, Sunan Agung lebih dulu berdiskusi dengan pamannya Pangeran Purbaya. Disepakati, Tumenggung Alap-Alap diutus menjemput Pekik. Selama Surabaya ditinggal Pekik, Tumenggung Sepanjang diangkat sebagai pelaksana tugas (Plt) adipati Surabaya.
Perjalanan Surabaya ke Mataram membutuhkan beberapa waktu. Bahkan molor dari jadwal yang direncanakan. Ini karena di setiap kota yang disinggahi, Pekik meminta rombongan berhenti. Menyantap kuliner khas daerah tersebut. Di antaranya, brem Madiun dan pecel Magetan. Rombongan juga sempat menikmati sate Panaraga.
Ketika memasuki Sukawati, Pajang, Pangeran Pekik memutuskan menginap beberapa malam. Dia tetirah dengan mengunjungi makam raja Pajang Sultan Hadiwijaya. Lokasinya berada di daerah Butuh, Sragen, Surakarta. Ketika berada di makam keramat itu, Pekik mendapatkan wangsit.
Pekik merasa didatangi Sultan Hadiwijaya. Raja Pajang itu memberikan pesan, kelak cucu Pekik bakal menjadi penguasa Jawa. Sang cucu bakal membangun keraton yang besar di Hutan Wanakerta di barat Pajang. Cucunya itu memakai gelar Amangkurat. Setelah menerima pesan itu, Pekik terbangun. Dia kemudian menceritakan wangsit yang diterimanya kepada juru kunci makam Butuh.
Setibanya di Mataram, Pekik meminta maaf karena kedatangannya mengalami keterlambatan. Raja menjawab dengan kemurahan hati. Sunan Agung ingin Pekik tinggal di Kerta, ibu kota Mataram sebagai bagian dari keluarga kerajaan.
Secara tak langsung Sunan Agung menjawab mimpi Pekik di makam Sultan Hadiwijaya. Raja mengatakan melalui garis keturunan perempuan, Ratu Pembayun, keturunan Pekik akan menjadi raja. Penguasa atas Jawa. “Saya kembalikan Surabaya kepadamu. Kekuasaanmu tetap seperti sediakala. Anggaplah antara Mataram dan Surabaya sama bagimu,” begitu pesan Sunan Agung kepada besan dan adik iparnya itu.
Perkawinan Sayidin dengan Pembayun melahirkan dua orang anak. Anak pertama tidak banyak disebut. Sedangkan putra kedua dinamakan RM Rahmat. Nama seperti yang disandang Sunan Ampel, kakek moyang Pekik. Saat Sayidin naik takhta sebagai raja Mataram bergelar Susuhunan Amangkurat I atau Hamangkurat Agung, Pembayun diangkat sebagai Ratu Kulon. Permaisuri pertama. Namun malang tidak dapat ditolak. Ratu Kulon ini meninggal 40 hari setelah melahirkan Rahmat. Ratu Kulon mengalami konduran.
Rahmat kemudian diboyong ke Surabaya. Dia diasuh dan dididik oleh kakeknya Pangeran Pekik dan Ratu Pandansari. Rahmat mendapatkan pendidikan karakter yang kuat. Mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga lanjutan yang banyak dihabiskan di pondok pesantren.
Kelak setelah dewasa, Rahmat diangkat sebagai putra mahkota. Kemudian menjadi raja bergelar Susuhunan Amangkurat II atau Hamangkurat Amral. Dia memindahkan ibu kota Mataram dari Plered ke Kartasura yang dulunya Hutan Wanakarta di barat Pajang. Ini persis seperti wangsit yang diterima kakeknya saat ziarah ke makam Hadiwijaya. (eno) Editor : Editor Content