Persiapan untuk pelaksanaan Salat Id sudah dilakukan warga. Mereka membersihkan lokasi dan mempersipkan semua perlengkapan. Di Masjid Kampus UGM misalnya, sejumlah pekerja membersihkan halaman depan. Bahkan trotoar di sisi timur juga dibersihkan. Selain disapu, juga dilakukan pembersihan menggunakan air.”Biasanya jamaah membeludak sampai ke jalan di sisi timur ini,” ujar salah satu pekerja.
Lokasi lain yang akan digunakan Salat Id adalah Taman Kuliner Condoncatur, Halaman TVRI Stasiun Jogja, Lapangan RSUP Sardjito, Lapangan Denggung Tridadi. Di Kota Jogja, Salat Id akan digelar di Masjid Gede Kauman, Alun-Alun Kidul, Lapangan Prenggan Kotagede. Di Bantul akan dihelat di Lapangan Baseban, Lapangan Trirenggo, Lapangan Wiyoro, Banguntapan, dan lai-lain. Di Wates Kulonprogo digelar di Alun-Alun Wates, Lapangan Dermaga Waduk Sermo, Lapangan Bendungan, dan lain.
Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo berencana melaksanakan Salat Idul Fitri di Lapangan Denggung, Tridadi, Sleman, hari ini. Sementara Kustini mengatakan, Lapangan Denggung dipilih lantaran jaraknya lebih dekat dengan Rumah Dinas Bupati Sleman. Menurut dia mengikuti salat ied versi Muhammadiyah pada 21 April atau versi pemerintah pada 22 April, baginya tak mengurangi esensi pada perayaan Idul Fitri 1444 Hijriah ini. Jutru, hal tersebut sebuah perbedaan yang sama-sama perlu dihargai. "Biasanya di Lapangan Denggung bersama keluarga. Cuma besok itu bapak (suami Kustini, Sri Purnomo) mengisi khutbah di Kalasan. Sehingga belum memutuskan akan ikut," kata Kustini kemarin (22/4).
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa mengikuti Salat Id versi pemerintah. Danang Maharsa berencana Salat Id bersama pada Sabtu (22/4) di Lapangan Sendangadi, Kapanewon Mlati. Usai Salat Id dia menjalankan sungkeman kepada keluarga inti. Orang tuanya, anak dan istri. Selanjutnya pada pukul 09.00-12.00 mengikuti ngabekten di Keraton Jogja. "Nah, jam 12.00-15.00 itu saya open house di rumah dinas wakil bupati," kata Danang.
Pada lebaran hari pertama dan kedua difokuskan pada kegiatan silaturahmi. Yakni, dengan berkeliling ke rumah keluarga yang sepuh-sepuh, juga tokoh masyarakat yang sepuh-sepuh. "Gitu saja biasanya agenda tiap tahunnya," beber dia.
Sementara itu, malam takbiran di jalananan Sleman bagian barat secara visual sangat syahdu tadi malam. Ratusan orang, sebagian besar anak-anak dan remaja membawa obor bambu atau biasa disebut oncor. Mereka berkeliling kampung sambil melafalkan takbir tanda kemenangan.
Salah satunya berlangsung di Padukuhan Ngaran Margokaton Seyegan Sleman dan Sunggingan Sendangrejo Minggir Sleman.Salah satu pemuda masjid setempat, Kasan Kurdi mengatakan malam takbir menggunakan oncor sudah tiga tahun digelar. Digagas oleh para pemuda masjid. Ide menghadirkan kembali oncor berangkat dari keprihatinan generasi sekarang yang tidak tahu tentang oncor.
"Ketika bercerita masa lalu bahwa kita pakai oncor obor. Mereka tanya oncor opo? Waduh. Kita jelaskan mereka tetap bingung. Ya sudah besok kita bikin pakai oncor bukan LED kayak sekarang," ujarnya kemarin (19/4).
Maka anak-anak dilibatkan untuk membuat oncor menggunakan bambu. Material yang digunakan diperoleh dari daerah setempat kecuali minyak tanah. Alhasil, mereka belajar banyak hal."Iya dilibatkan, mereka jadi belajar cara bermain api dengan baik dan benar. Sebab, memegang api sambil jalan butuh keterampilan. Juga jadi tahu baunya minyak tanah kayak apa," jelasnya.
Penggunaan material dari daerah setempat ternyata juga memiliki tujuan khusus. Penggunaan bambu dan sabut kelapa pada oncor lantas mengemban misi pelestarian tanaman tersebut.
Kasan menyebut banyak orang sudah tidak menanam bambu dan pohon kelapa. Alasannya karena kotor, susah diatur dan buah kelapa yang membahayakan. Padahal orang jaman dahulu menanam pohon kelapa untuk minyak dengan segudang manfaat. Sekarang cenderung memilih praktis minyak sawit dan beralasan pohon kelapa membahayakan.
"Ketika kita mengenalkan kembali obor oncor ini itu kan diharapkan generasi penerus jadi memikirkan wah ini pohon bambu jangan ditebang, karena bisa buat acara setahun sekali. Tapi nanti bisa untuk mikir hal lain. Termasuk pohon kelapa. Ya itu secara sederhana," paparnya.
Di beberapa masjid dan pondok pesantren di Jogjakarta dijadwalkan akan melaksanakan Salat Idul Fitri, Sabtu (22/4). Salah satu di antaranya di Pondok Pesantren Al Muntaz Kerjan Beji Patuk Gunungkidul. Menurut pengasuh Ponpes Al Muntaz KH Khoeron Marzuki, pelaksanaan Salat Id akan mengikuti penetapan pemerintah.”Jadi kami akan laksanakan Sabtu (22/4),’’ ujarnya.
Sedangkan Keraton Jogjakarta menetapkan Lebaran tahun ini pada Sabtu (22/4). Berdasarkan penanggalan Jawa yang digunakan oleh Keraton Yogya, tanggal tersebut bertepatan dengan 1 Sawal 1956 Jawa. Keraton Jogjakarta juga mengadakan Grebeg Sawal secara terbuka di Masjid Gedhe Kauman.(lan/mel/din). Editor : Editor Content