Perang itu telah menguras Anggaran Pendapatan dan Belanja Mataram (APBM). Sebagian besar tersedot membiayai pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) Tentara Nasional Mataram (TNM). Bukan hanya untuk operasi di darat. Namun juga angkatan laut. Apalagi dalam pertempuran itu, Mataram secara khusus mendatangkan bantuan bawah kendali operasi (BKO) dari angkatan laut Sampang Madura dan Gresik.
Di luar itu juga ada kebutuhan logistik untuk persediaan beras. Badan Urusan Logistik Mataram (BULM) diperintahkan sejak awal memenuhinya. Harga beras di ibu kota Mataram menjadi mahal. Rakyat kesulitan membeli bahan pangan tersebut. Beberapa kali operasi pasar yang diadakan pihak istana tak mampu menurunkan harga beras. Rakyat tetap berteriak. Beras mahal. Semua terjadi di tengah kemarau. Terjadi ancaman kelaparan. Resesi ekonomi mengancam Mataram.
Mahalnya harga kebutuhan pokok itu gara-gara ribuan ton beras dan padi dikirim keluar Mataram. Sebagian besar dikirimkan ke beberapa lokasi seperti Jepara, Cirebon, hingga Karawang. Belakangan pusat-pusat logistik itu dibakar Kompeni. Ini menyusul bocornya surat perintah operasi yang sengaja dibocorkan Tumenggung Endranata. Kompeni tahu di mana gudang pangan Mataram disimpan.
Kegagalan dua kali mengepung benteng VOC juga dipicu karena sejumlah prajurit terserang berbagai penyakit. Ditambah mereka kekurangan pangan. Minimnya asupan gizi yang seimbang membuat orang-orang Mataram mundur teratur.
Kasultanan Banten yang wilayahnya berada di dekat Batavia sempat bersikap kooperatif. Banten menjanjikan bantuan makanan bagi prajurit Mataram. Namun janji itu tinggal janji. Tak pernah ada dalam kenyataan. Prajurit Mataram mendapatkan janji penuh harapan palsu alias PHP.
Memang hingga menyerang Batavia, Banten termasuk kerajaan yang belum berhasil ditundukkan Susuhunan Agung. Saat itu dua petinggi Banten diturunkan ke lapangan. Dalihnya membantu pasukan Mataram. Kedua petinggi itu adalah Tumenggung Wira Utama dan Tumenggung Rangga Wira Putra. Di lapangan sikap keduanya berbeda. Wira Utama menghormati langkah Mataram. Sebaliknya, Rangga Wira malah ikut menyerang pasukan Mataram.
Tak cukup itu, Rangga Wira juga berulah dengan mengeluarkan ejekan. Para prajurit Mataram disebut Si Bendul atau Tengkorak Maut. Ini melukiskan kondisi pasukan Mataram sejak pengepungan benteng VOC yang tubuhnya kurus-kurus.
Sejak perang dinyatakan berakhir, perlahan-lahan pasukan Mataram meninggalkan Batavia. Bukan saja mengangkut alutsista seperti meriam, bedil, tombak dan lainnya pulang kampung. Namun mereka juga mengusung jenazah beberapa orang perwira tinggi yang gugur. Di antaranya, Bupati Kendal Tumenggung Bahureksa yang meninggal karena kehabisan darah.
Dia menjadi panglima operasi pengepungan pertama 1628. Bahureksa tertembak meriam dan terseret. Lalu kesangkut pohon. Tapi tidak segera meninggal. Upaya pertolongan pertama tidak dilakukan. Bala bantuan pasukan tak kunjung datang. Pasukan yang kehilangan panglimanya bubar.
Bahureksa dibawa pulang ke daerah asalnya. Jenazahnya dimakamkan di Kaliwungu, Kendal dalam sebuah upacara militer. Makamnya berdekatan dengan dua bersaudara Tumenggung Mandurareja dan Tumenggung Upa Santa yang harus menjalani eksekusi karena dinilai gagal dalam operasi pertama menyerang markas Kompeni.
Titik air mata mengiringi upacara pemakaman Bahureksa, Mandurareja, dan Upa Santa. Para prajurit mulai tingkat tamtama, bintara dan perwira merasa kehilangan pemimpin mereka. Ketiganya dikenang sebagai kusuma bangsa yang total mengabdikan diri bagi Mataram maupun rajanya.
Mereka merasa gelisah dengan dihukum mati Mandurareja dan Upa Santa. Bagaimanapun keduanya adalah keturunan tokoh masyur Mataram, Ki Juru Mertani. Sayup-sayup terdengar suara tak terima. Ada ketidakadilan mereka rasakan. (laz) Editor : Editor Content