Sedangkan selir juga merupakan istri raja. Namun status sosialnya satu tingkat lebih rendah dibandingkan permaisuri. Khususnya menyangkut kedudukan dan hak protokoler di lingkungan kerajaan. Salah satu contohnya, permaisuri posisi duduknya dalam setiap acara kenegaraan berada di kanan atau kiri kursi yang ditempati raja. Permaisuri juga berhak berjalan di samping raja.
Lain halnya dengan selir. Semua hal yang melekat pada permaisuri tidak dimiliki selir. Misalnya, selir tidak mungkin duduk di samping raja dalam satu acara resmi. Namun statusnya tetap istri raja. Setelah Mataram terbagi menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta ada perbedaan menyebut selir. Di Kasunanan disebut priyantun dalem. Sedangkan di Kasultanan garwa ampeyan.
Kembali tentang permaisuri dalam kenegaraan modern dinamakan first lady. Sejak era Panembahan Senopati, raja Mataram rata-rata memiliki dua permaisuri. Yakni Ratu Kulon dan Ratu Wetan. Dalam protokoler sehari-hari, kedudukan Ratu Kulon lebih tinggi. Dia disebut the first Queen. Kedudukan lebih rendah disandang Ratu Wetan sebagai the second Queen.
Ihwal penyebutan Ratu Kulon dan Ratu Wetan karena lokasi kediaman kedua istri raja. Ratu Kulon berada di barat keraton dan Ratu Wetan di timur keraton. Kedudukan Ratu Kulon lebih tinggi karena calon pengganti raja atau pewaris takhta berasal dari putra laki-laki yang lahir dari Ratu Kulon.
Meski begitu, kedudukan Ratu Kulon dan Ratu Wetan tidak selamanya permanen. Posisi keduanya bisa bergeser. Bisa bertukar tempat. Ratu Kulon degradasi menjadi Ratu Wetan dan Ratu Wetan promosi menggantikan posisi Ratu Kulon. Pergeseran ini berdampak terhadap anak laki-laki dari kedua permaisuri raja. Anak permaisuri dari Ratu Kulon menjadi putra mahkota. Berhak memegang tiket sebagai calon raja. Bergelar Pangeran Adipati Anom Hamangkunegara. Pergeseran itu sepenuhnya menjadi hak raja.
Bagaimana syarat dan siapa saja yang berhak diangkat sebagai permaisuri? Semua bergantung pada raja. Wewenang sepenuhnya Susuhunan atau Sultan. Hak prerogratif raja yang bertakhta. Tidak peduli berdarah bangsawan atau rakyat biasa. Prameswari dari kalangan rakyat contohnya terjadi pada masa Sunan Amangkurat III.
Raja yang dikenal dengan sebutan Sunan Mas ini awalnya memiliki permaisuri putri pamannya Pangeran Puger. Kemudian permaisuri ini dicopot dari kedudukannya. Digantikan gadis dari Dusun Onje, Purbalingga yang diberi gelar Ratu Kencana.
Kendati memungkinkan mengangkat permaisuri dari rakyat biasa, raja-raja Mataram biasanya mempertimbangkan faktor trah atau keturunan. Terkait ini ada ungkapan Jawa berbunyi “trahing kusuma, rembesing madu, wijining atapa, tedhaking andana warih”. Maknanya keturunan bunga, tetesnya madu, berbenih petapa dari keturunan bangsawan. Bila calon permaisuri tidak didapat dari keturunan Mataram, raja mengambil permaisuri dari perempuan yang keluarganya tinggi prestisenya.
Raja pertama Mataram Panembahan Senopati mengambil dua permaisuri. Ratu Mas Waskita Jawi, putri Ki Penjawi dari Pati dan Retna Dumilah, putri Madiun anak dari Pangeran Timur yang merupakan putra Sultan Trenggana Demak.
Raja kedua Panembahan Hanyakrawati juga punya dua permaisuri. Ratu Kulon dan Ratu Wetan. Ratu Kulon semula ditempati Ratu Mas Lungayu dari Ponorogo. Sedangkan Ratu Wetan dinamakan Ratu Mas Adi Dyah Banowati putri Pangeran Benawa, raja Pajang.
Ketika suksesi, baik di masa Senopati maupun Hanyokrawati terjadi pergesaran. Pangeran Pringgalaya, putra Retno Dumilah batal menjadi raja kedua Mataram. Dia tergusur oleh Pangeran Jolang yang lahir dari Waskita Jawi. Keturunan Ki Penjawi dinilai punya prestise lebih tinggi dibandingkan putri Madiun. Apalagi Ki Penjawi masih saudara sepupu Ki Ageng Pemanahan, ayah Senopati.
Begitu pula Jolang yang bertakhta dengan gelar Hanyakrawati. Semua calon penggantinya adalah Raden Mas (RM) Wuryah, putra Ratu Lungayu. Tapi belakangan tergeser oleh Pangeran Rangsang yang lahir dari Ratu Adi.
Pergeseran permaisuri dan putra mahkota juga dilakukan Rangsang yang nantinya bergelar Sultan Agung. Dia mengangkat RM Sayidin, putra dari Ratu Batang keturunan Ki Juru Mertani yang menggeser RM Syahwawrat yang lahir dari putri Cirebon. Semula ibunda Syahwawrat berkedudukan sebagai Ratu Kulon. Kemudian mengalami reshuffle menjadi Ratu Wetan. Otomatis hak sebagai putra mahkota beralih ke Sayidin. (laz) Editor : Editor Content