Pada dasarian kedua April kemarau terjadi di beberapa kapanewon di Kulonprogo, Sleman, hingga Bantul. Lalu dasarian ketiga April kemarau terjadi di sebagian kapanewon di Kulonprogo. Sementara musim kemarau secara merata di DIJ akan terjadi pada dasarian pertama bulan Mei.
"Sehingga jika dirasakan saat ini wilayah Jogjakarta masih dalam masa hidrometerologi. Hujan lebat dan petir masih akan terjadi pada Maret ini," jelasnya melalui sambungan zoom, Jumat (31/3).
Reni memprediksi durasi musim kemarau 2023 di wilyah DIJ bervariasi. Mulai dari 16 hingga 20 dasarian atau terjadi sekitar 5 hingga 6 bulan. Sebagian besar wilayah di Jogjakarta akan mengalami puncak musim kemarau pada bulan Agustus.
Sementara beberapa daerah juga diperkirakan mengalami puncak musim kemarau lebih awal yakni pada bulan Juli. Misalnya di Nanggulan, Sentolo, Minggir, Moyudan, Bantul, dan Pajangan.
Reni melihat adanya potensi bencana hidrometeorologi berupa kekeringan. Ini lantaran terjadinya fenomena El Nino.
"Berdampak pada berkurangnya intensitas curah hujan. Sehingga musim kemarau lebih kering dari biasanya. Perlu waspada dan antisipasi bencana kekeringan pada puncak musim kemarau," katanya.
Reni mengimbau para petani untuk memperhatikan masa tanamnya. Mengingat musim kemarau yang diprediksi akan terjadi panjang dan lebih kering dari biasanya.
Selain itu, instansi terkait juga diminta terus bersiaga. Misalnya BPBD dengan upaya dropping air bersih di wilayah-wilayah kekeringan.
"Kami harap pemangku kepentingan antsipasi sedini mungkin dan kami harap masyarakat umum update terus informasi cuaca dan iklim di BMKG. Sehingga potensi bencana hidrometeorologi bisa diantisipasi sedini mungkin," ujarnya. (Dwi) Editor : Editor News