Plt Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf Frans Teguh mencatat, ada beberapa pengelolaan pariwisata yang berdampak negatif terhadap lingkungan. Hal ini perlu ditindaklanjuti.
"Ada kerusakan ekologis karang di perairan Raja Ampat, Pantai Kuta yang penuh sampah hingga video menginjak stupa Candi Borobudur," ujarnya pada diskusi Destination Management Forum (DMF) seri #4 bertajuk 'Penguatan Tata Kelola Pariwisata dan Program Stakeholder untuk DPSP Borobudur' di Harper Hotel Jogjakarta (9/3).
Frans menilai pentingnya manajemen pembangunan pariwisata sejak awal harus ditata. Agar lingkungan sekitar wisata tidak rusak, termasuk dampak sosial yang ditimbulkan. Di sisi lain, perlu mengatur para wisatawan agar memahami konsep wisata berkelanjutan sehingga dapat saling menjaga.
"Pariwisata adalah urusan semua orang, kita tidak bisa lagi sendirian. Harus bersinergi bersama dengan berbagai pihak," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata DIJ Singgih Raharjo mengatakan, pariwisata berkualitas dan berkelanjutan telah masuk dalam rencana kebijakan kepariwisataan DIJ periode 2022-2027. Pariwisata berkelanjutan di DIJ meliputi konservasi alam, konservasi budaya dan konservasi sosial. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Konservasi alam sudah jelas berkaitan dengan keberlangsungan alam jangka panjang. Kaitannya dengan kerusakan yang berpotensi bencana alam. Sedangkan dalam bidang kebudayaan, Singgih menilai DIJ sudah tidak diragukan lagi dalam upaya pelestarian nilai-nilai budayanya.
"Konservasi sosial ini tidak kalah pentingnya dan menjadi bagian yang perlu dilestarikan. Misalnya bagaimana kehadiran wisata itu tidak merusak tatanan sosial. Jangan sampai hadirnya wisata malah membuat orang tidak menjadi rukun, berarti artinya konservasi sosial tidak berjalan,” jelasnya. (lan/laz) Editor : Editor Content