Ketua panitia pameran Toto Rizkyanto menjelaskan, UKM tersebut memiliki beberapa fokus kegiatan seperti MTQ, tilawah, sholawat, dan kaligrafi. Untuk pameran sendiri sebenarnya sering dan rutin. Namun baru kali ini dilakukan di luar kampus. Karena merasa perlu menyebarkan lebih luas soal karya kaligrafi ini. “Selain itu juga kami butuh tempat yang luas, karenanya dipilih TBY sebagai tempat pameran,” jelasnya.
Menurutnya, symphony dipilih sebagai nama pameran karena memiliki makna yang baik. Yakni sebuah suara dan keindahan nada. Namun pada pameran kali ini symphony lebih menjelaskan tentang keindahan kalam-kalam pada goresan dan gambaran kaligrafi. “Karena kaligrafi adalah suatu tulisan yang indah dan terdapat pada bait syair atau ayat-ayat yang bermakna indah dalam pengucapannya,” jelasnya.
Pameran ini menampilkan lebih dari 50 pameris atau kontributor karya dan menghasilkan 120 karya kaligrafi yang terbagi dalam beberapa jenis seperti lukisan dan karya instalasi kaligrafi lain yang memanfaatkan medium patung, kayu hingga batu.
Para panitia pameran juga merupakan pameris yang turut menampilkan karya. Dari total 50 pameris yang ada, 30 orang juga menjadi panitia pelaksana pameran dengan total persiapan pameran kurang dari satu bulan lamanya. Selain dari mahasiswa UIN atau para anggota UKM Al-Mizan, ada juga peserta dari mahasiswa ISI Jogja dan Universitas Alma Ata.
Aditya Rizky, salah satu pengunjung yang juga mahasiswa Ilmu Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga mengakui, pameran ini bagus untuk pembelajaran.”Saya juga ingin belajar membuat kaligrafi,” ungkapnya.(cr1/din) Editor : Editor Content