RADAR JOGJA - Dialog kebudayaan 'Menggaungkan Kembali yang Punah, Prajurit Keraton Ngayogyakarta, Bagaimana Melanjutkan Pelestarian dan Pengembangannya' sukses digelar di Ndalem Yudaningratan Sabtu (4/3). Dua narasumber dari Keraton, GBPH Yudhaningrat dan KRT Jatiningrat memantik dialog yang mayoritas diikuti oleh anak muda.
GBPH Yudhaningrat mengawali diskusi dengan memaparkan awal mula terbentuknya keprajuritan sejak era Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Keberadaan prajurit terbentuk karena pecah Perang Mangkubumen antara Mangkubumi dengan VOC kisaran tahun 1764-1755. Perang berakhir dengan disepakatinya perjanjian Giyanti.
Setelah perang berakhir, para prajurit bregada kemudian bertugas untuk acara kebudayaan hingga saat ini. Gusti Yudhaningrat menyebut ada 10 bregada.
"Prajurit Keraton tugas paling pokok melanjutkan dan melestarikan Keraton Yogyakarta. Mereka tidak berperang namun untuk acara budaya, keagamaan seperti Grebeg yang dilaksanakan Keraton. Acara adat lain misalnya perkawinan agung ada perintah Sultan untuk melaksanakan," paparnya.
"Namun Prajurit Keraton tetap melaksanakan tugas, menjaga keamanan dan ketertiban di Keraton juga membantu abdi dalem," lanjutnya.
KRT Jatiningrat menambahkan pada periode tahun 1945-1970, para prajurit Keratin dibekukan atas mandat dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Prajurit yang awalnya didapuk perang, fungsinya dirubah untuk upacara. Alhasil, pakaian para prajurit ikut dirubah seperti yang sekarang, lebih bewarna.
periode 1945 hingga 1970 prajurit Kraton Yogyakarta sempat mengubah bentuk (dibekukan) karena kebijakan Sri Sultan HB IX untuk memastikan kelanjutan keprajuritan. Fungsi perang diubah menjadi upacara yang akhirnya juga mengubah pakaian para prajurit lebih berwarna seperti yang dikenal saat ini.
"Prajurit Keraton diubah sehingga mosok pakaian seperti itu untuk perang, ya agar keberadaannya terjamin ada," ujarnya.
Sementara itu, Pendiri Indonesia Gaya, Gayatri Wibisono mengatakan bincang budaya ialah salah satu upaya pelestarian budaya. Sasarannya masyarakat umum, terlebih para generasi muda.
"Ketika sesuatu dibicarakan, menarik maka harapannya tidak menjadi punah," ujarnya.
Ke depan, kegiatan serupa bakal dilakukan di pelbagai kota lain di Indonesia. Temanya menyesuaikan dengan budaya daerah setempat. Diantaranya di Jogja, Bali, hingga Kalimantan.
"Salah satunya di Jogja hari ini kami lakukan bincang budaya untuk mendapat wacana informasi budaya khususnya di Jogja," ujarnya. (lan/kus)
Editor : Editor Content