Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pemilik 19 Laundry Bar, Kurnia Fatmasari

Editor Content • Sabtu, 4 Februari 2023 | 14:05 WIB
DOKUMENTASI Dianisa Isnaini
DOKUMENTASI Dianisa Isnaini
RADAR JOGJA - Laundry self service semakin populer. Lebih dipilih karena privasi konsumen terjaga. Selain itu, tak perlu khawatir pakaian tertukar dengan customer lain.

Pemilik 19 Laundry Bar Kurnia Fatmasari menjelaskan, umumnya orang malu-malu menyucikan pakaian dalam ke laundry konvensional. Namun melalui laundry self service, orang bebas mencuci jenis pakaiannya. Dan tak perlu khawatir, pakaiannya bakal tertukar. Karena proses awal hingga akhir dilakukan oleh customer sendiri. Bukan pegawai jasa laundry.

Kelebihan jasa ini, biayanya lebih dibebankan kepada penggunaaan mesin pencuci. Tidak seperti laundry konvensional, yang biayanya dibebankan pada jumlah pakaian per kilogramnya. "Satu mesin cuci kapasitas maksimal empat kilogram baju. Biaya sewa mesinnya Rp 13 ribu. Kalau kapasitasnya lebih dari itu, ya menggunakan tambahan mesin cuci lagi," beber perempuan 28 tahun ini kemarin (3/2).

Photo
Photo
DOKUMENTASI PRIBADI

Dengan Rp 13 ribu itu, customer sudah mendapatkan detergen gratis sesuai porsi cuci. Yakni 10 ml untuk satu kilogram pakaian. Penggunaan sabun cuci, disebut Nia harus tepat. Sebab jika berlebihan, akan membuat waktu mencuci lebih lama. Karena busa pada pakaian akan sulit hilang. Selain itu, warna pakaian terancam pudar.

Harga yang ditawarkan itu, lebih terjangkau dibandingkan laundry konvensional. Dengan rata-rata tarif per kilogramnya dibanderol Rp 5 ribu sampai Rp 7 ribu. Waktu binatu mandiri ini pun memiliki keunggulan dibanding laundry pada umumnya. Lebih cepat. Hanya 1,5 jam untuk menyelesaikan mencuci pakaian. Terbagi 28 menit untuk pencucian, dan 55 menit untuk pengeringan. "Karena self service, 1,5 jam selesai lalu mereka lipat-lipat sendiri. Terus dibawa pulang," ujar warga Sleman ini.

Dikatakan, hasil cucian dari laundry self service tidak lagi memerlukan setrika. Kecuali baju kantor, seperti kemeja. Sebab panas pada pengering, membuat pakaian seperti disetrika. Sehingga pelanggan hanya perlu melipat rapi pakaian, agar tak kusut.

Nia mengatakan, peminat layanan ini mulai tinggi sejak pertengahan tahun lalu. Seiring menggeliatnya kembali ekonomi masyarakat, perkuliahan, dan pariwisata di DIJ. "Peminat laundry mayoritas anak kuliahan. Juga wisatawan yang membutuhkan laundry kilat," ungkapnya.

Menurutnya, peminat tinggi rata-rata saat weekend dan libur panjang. Dalam sehari, dia bisa menerima hingga 400 kilogram pakaian. Sedangkan saat hari biasa, hanya 100-150 kilogram. "Ramai-ramainya pas hari Jumat, Sabtu, Minggu. Itu rata-rata customer anak kuliahan, juga ibu-ibu pekerja yang liburnya di weekend. Biasanya jam 17.00 sampai 20.00 mulai ramai," sebut alumnus UNY ini.

Hanya saja, Nia sudah mengawali usahanya sejak 2020. Ide ini tercetus ketika dia berkunjung ke Malaysia pada 2019. Layanan laundry self service begitu marak dan menurutnya lebih praktis. Sepulangnya dari Negeri Jiran itu, dia mengambil peluang. "Kebetulan di Jogja masih jarang," ucapnya.

Disebutkan, ada delapan mesin cuci dan delapan mesin dryer untuk usahanya. Selain laundry self service, juga melayani laundry konvensional dan laundry satuan kilat. (mel/eno) Editor : Editor Content
#lifestyle #laundry self service