Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kado Ultah Elit hingga Bagian Perkembangan Peradaban

Editor Content • Minggu, 29 Januari 2023 | 19:28 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Pulpen memiliki sejarah panjang, menjadi bagian perkembangan peradaban. Ketua Jurusan Tata Kelola Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta Mikke Susanto menjelaskan, dari segi teknis, penggunaan pen yang dicelupkan (tinta), diisi (tinta) secara manual, kemudian ditorehkan.

Alatnya bisa berasal dari bahan alam. Seperti tulang bulu, atau dari bambu seperti yang ada di Tiongkok. Baik dari bambu kecil berlubang hingga bambu yang hanya dicelupkan sekali. Hingga memakai logam yang dibuat khusus atau dinamakan mata pena. “Itu yang disebut pen atau mata pena,” ujar Mikke saat dihubungi Radar Jogja (27/1).

Prinsipnya seperti kuas. Jika ditarik mundur, kuas itu pun juga bagian dari konsep pena. Diambil ditorehkan-diambil ditorehkan dan seterusnya. Lain halnya bolpoin, karena ada aspek pabrikan, dilengkapi alat menyimpan tinta. Sehingga tinta lebih lama. Perbedaan lainnya, bolpoin menggunakan bola kecil di bagian pucuknya.

“Terkait aktivitas sketsa ataupun menggores dengan menggunakan pen atau pena, sudah lama dilakukan. Sejak munculnya kuas dan pen tradisional dan di Toongkok banyak catatan mengenai itu,” terang kurator konsultan untuk Istana Kepresidenan ini.

Di Indonesia, proses kreatif pemakaian pena sudah ada sejak berkembangnya seni modern. Dimulai dari seniman-seniman kolonial Belanda, muncul sketsa-sketsa yang dibuat para pelukis asing di Indonesia. Hingga akhirnya berkembang menjadi kegiatan Akademik Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang sekarang menjadi tergabung dalam Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta maupun kampus lainnya.

Pemanfaatan pen atau pena dengan tinta, dinilai lebih ekonomis. Contohnya mahasiswa Seni Rupa ISI Jogjakarta. Alat ini menjadi kebutuhan. Bahwa setiap individu yang ingin menjadi seniman, wajib melakukan latihan. Untuk mencapai kualitas tertentu diwajibkan membuat sketsa 1.000 lembar. “Salah satunya menggunakan pena untuk membuat sketsa,” tambah suami seniman lukis kaca Rina Kurniyati ini.

Sejatinya, pena tulis dan sketsa sama saja, tergantung penggunanya. Ada juga yang memanfaatkan pena untuk membuat kaligrafi, tulisan yang juga karya seni.

Jauh sebelum mesin cetak berkembang, semua ditulis manual. Pen bagian dari peradapan, alat yang berjasa bagi keberadaan sejarah. Pen menjadi media mendapatkan hasil olahan pen melalui orang tentu menciptakan karya yang sampai saat bisa dinikmati. Mulai dari guru, bidang administrasi, perkantoran dan lainnya.

Adapun pulpen yang terkenal di kalangan elit yaitu merk Parker dan Pelikan. Memiliki ujung yang pipih, biasanya dipakai untuk menulis surat berharga. Seperti undang-undang, tanda tangan pejabat maupun orang tua. Bahkan sekarang ini masih banyak digunakan oleh para pengusaha profesional.
“Mereka saat ulang tahun hadiah utamanya pena mahal lho,” kata Mikke. Dan harga pena itu pun fantastis. Jutaaan rupiah. Ada juga yang sudah berkembang, ada teknologi di dalamnya.

“Dulu ada cek (cheque), tanda tangan tidak bisa dipalsu karena ada pena khusus yang dipakai pemilik ceknya,” ujar pria asal Godean, Sleman, ini. Pena yang dilengkapi teknologi ini menjadi petunjuk bahwa alat ini juga mengalami perubahan zaman.

Nah, unsur teknologi inilah juga membantu menghindari orang tertipu tandatangannya. “Saya masih menyimpan buku goresan guru ngaji (menggunakan pena, Red) saat memberikan pelajaran muridnya,” ungkap Mikke sambil menunjukkan koleksi arsipnya.

Sementara itu, Kepala Administrasi dan Akademik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Naning Luddy mengungkapkan, penggunaan pulpen pada bidang administrasi saat ini jarang ditemukan. Mayoritas sudah menggunakan penulisan modern dengan ketik komputer.

“Sebab untuk kemudahan dibaca lebih enak komputer, karena jenis hurufnya standar dipahami semua orang. Kalau tulis tangan sering berbeda, misal n atau m, karena kadang menjadi tidak sesuai dengan standar, kan bukan produk pabrik,” ujarnya.

Meski bukan generasi pulpen, Naning menceritakan pulpen jadul saat itu kerap dipakai ayahnya dalam urusan tulis menulis. “Itu saya zaman SD. Merek terkenal Arrow saat itu,” ungkapnya. (mel/laz) Editor : Editor Content
#Mikke Susanto