"Jenang senepo ini campuran dari beberapa jenis jenang atau bubur. Ada jenang candil berwarna coklat, bubur sumsum berwarna putih, mutiara (merah, Red), krangkang (hijau, Red), ketan hitam, kacang hijau dan pati irut," beber penjual Jenang Senepo Catur Wulandari Jumat (27/1).
Warga Tambakrejo ini mengaku, sudah berjualan jenang senepo sejak 2017. Lokasinya berada di Jalan KHA Dahlan, tepatnya di sayap selatan pintu masuk Kampus Universitas Muhammadiyah Purworejo. Jenang Senepo ini diproduksi di Kutoarjo oleh Boga Saktiyanto.
"Beli terpisah juga bisa, semisal mau jenang candil saja boleh, bubur sumsum saja juga bisa cocok usai hajatan. Katanya simbol untuk memulihkan tenaga," jelas perempuan 45 tahun ini.
Ditambahkan, penggemar jenang senepo hampir dari semua kalangan. Sebagian besar mereka yang memang membutuhkan asupan makanan halus di masa pemulihan kesehatan. Dikatakan, jenang senepo termasuk makanan tradisional berbahan baku alami terbuat dari tepung beras ketan. “Bagi kesehatan memang banyak khasiatnya, campuran pati irut misalnya, diyakini bisa menyembuhkan asam lambung," ungkapnya.
Setiap harinya, Wulan berjualan mulai pukul 09.00-15.30. Rerata bisa menjual 140 cup. Dengan omzet bersih yang diperolehnya mencapai Rp 500 ribu.
Menurutnya, jenang senepo juga memiliki penggemar fanatik, pembelinya tidak hanya dari lokal Purworejo saja, sebagian pelanggan juga datang dari Jakarta dan sekitarnya. "Saya punya pelanggan orang Jakarta, kalau pas pulang Purworejo pasti mampir ke sini. Beberapa juga selalu pesan untuk acara pernikahan dan lainnya, ya kami melayani pesanan juga," ujarnya.
Seorang pembeli Dahlia Nurjanah, 27, warga Kledung Kradenan, Banyuurip menyebut, tujuh campuran bahan bubur dinamakan jenang senepo. Namun saat akan membeli jenang itu, ada beberapa jenis bubur yang habis. “Harganya sama (campur atau tidak, Red) hanya Rp 4000 per cup, murah kok," katanya. (tom/eno) Editor : Editor Content