Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Perayaan Imlek di Jogja dan Tiongkok Berbeda

Editor Content • Sabtu, 21 Januari 2023 | 13:58 WIB
Photo
Photo
 

RADAR JOGJA - Dalam waktu dekat, umat Tionghoa di seluruh dunia akan merayakan Tahun Baru Imlek. Hari raya yang kerap dikenal sebagai tahun baru Cina itu merupakan momentum penting bagi etnis tersebut. Termasuk bagi Bi Shuangjie(毕双杰) warga negara Tiongkok yang kini tengah menjalani program pertukaran mahasiswa di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogjakarta.

Pemuda yang memiliki nama Indonesia Bisma itu mengatakan, memang ada beberapa perbedaan kebiasaan perayaan Imlek di negara asalnya dengan di Jogjakarta. Seperti pada hari pertama tahun baru, warga negara Tiongkok biasanya akan membersihkan rumah secara menyeluruh. Hal tersebut memiliki arti tahun baru adalah awal yang baru untuk memulai kehidupan.

Selain itu, warga negeri tirai bambu juga biasanya akan merayakan festival musim semi dengan menggantung lampion. Kegiatan tersebut mungkin sama dengan orang Tionghoa di Jogjakarta. Namun yang membedakan adalah aktivitas setelahnya. Keluarga Tionghoa akan memakan bola ketan. Lalu menaruh koin bola ketan tersebut dan memakannya dengan harapan mendapat rezeki di tahun baru.

Setelah itu, sambung Bisma, para orang tua keluarga Tionghoa juga akan mengajak anak-anaknya berkunjung kepada para tetua (kakek/nenek) untuk mengucapkan salam Tahun Baru. Kemudian para tetua akan memberikan amplop merah kepada generasi muda yang biasanya berusia anak-anak sekolah. Anak-anak itu kemudian akan diminta meletakkan amplop di bawah bantal tempat tidur dan menunggu sampai keesokan harinya.

"Kami hanya bisa membuka amplop dan tidur di jam dua belas di hari kedua tahun baru Imlek. Kami menyebutnya (kegiatan itu, Red) Shou Sui," ujar Bisma kepada Radar Jogja kemarin (20/1).

Bisma menyebut, Imlek di negara Tionghoa dihitung menurut penanggalan lunar. Untuk tahun ini dimulai dari 21 Januari. Sementara keesokan harinya atau pada tanggal 22 Januari merupakan festival musim semi.
Perbedaan yang cukup kontras dari Imlek di Jogjakarta dengan Tiongkok, menurut Bisma, adalah tidak adanya perayaan festival musim semi. Karena dalam kegiatan tersebut biasanya warga negara Tionghoa akan bersatu kembali dengan anggota keluarga, makan bersama, dan memberikan amplop merah. "Amplop merah itu digunakan oleh anak-anak untuk merayakan festival musim semi," tandas Bisma. (inu/eno) Editor : Editor Content
#Universitas Ahmad Dahlan