Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Masih Banyak Dicari tapi untuk Tukang Bangunan

Editor Content • Minggu, 8 Januari 2023 | 15:36 WIB
TETAP EKSIS: Pemilik toko bangunan Ambarguritno di Jalan Imogiri Timur menyebut, keberadaan katrol masih eksis untuk keperluan tukang kalau mau bangun rumah.(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)
TETAP EKSIS: Pemilik toko bangunan Ambarguritno di Jalan Imogiri Timur menyebut, keberadaan katrol masih eksis untuk keperluan tukang kalau mau bangun rumah.(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Salah satu peranti yang kini mulai ditinggalkan adalah katrol atau timba manual. Alat ini dulunya digunakan untuk mengambil air dari dalam sumur. Tapi, kini sebagian masyarakat sudah berpindah pada alat pompa air listrik.

Radar Jogja berhasil menemukan salah satu toko yang menjual timba manual. Toko ini bernama Ambarguritno, lokasinya berada di Jalan Imogiri Timur.

Umang Risnawati, pemilik toko bangunan Ambarguritno menyebut, keberadaan katrol masih eksis. “Untuk keperluan tukang kalau mau bangun rumah,” bebernya, sembari melayani pembeli di tokonya, Jumat (6/1).

Umang menjelaskan, tukang bangunan memakai katrol sebagai alat untuk menaikkan material bangunan. Umumnya ini dilakukan untuk pengerjaan bangunan di bagian atas. Bisa juga untuk bangunan dengan lantai lebih dari satu tingkat. “Mereka (tukang bangunan, Red) pakainya katrol buat kerek material ke atas,” ujarnya.

Selain keperluan alat bantu pembangunan, kata Umang, masih ada yang mencari katrol untuk sumur. Kendati perempuan kelahiran 1978 ini cukup jarang menemui. “Buat sumur sementara juga bisa. Masih ada yang beli karena belum ada listrik (rumah baru dibangun, Red),” paparnya.
Oleh sebab itu, Umang juga menyediakan tali timba yang berupa karet. “Talinya saya juga ready. Cuma dua itu, komponen timba. Cuma katrol sama karet. Tenaganya kan manusia,” lontarnya.

Umang membeberkan, dia pernah kewalahan memenuhi kebutuhan katrol. Itu terjadi sesaat usai gempa Bantul 2006 silam. “Pernah jaya, kerekan timba paling laku pas gempa. Soalnya waktu itu sering mati listrik,” sebutnya.

Kendati masih eksis, Umang mengaku penjualan katrol tidak begitu tinggi. Sebab, untuk stok sebanyak 10 buah, habisnya butuh waktu setahun. “Sekarang sudah pada beralih ke mesin kan,” ungkapnya. (fat/laz) Editor : Editor Content
#Jogja