RADAR JOGJA - Kharolin Hilda Amazona berhasil memanfaatkan limbah sayuran dari rumah tangga menjadi ecoprint yang indah. Ide ini tercetus saat perempuan yang akrab disapa Olin ini melihat ibunya yang jualan di pasar selalu membawa pulang bawang merah yang tidak laku dijual. Seperti apa?
Wulan Yanuarwati, Sleman, Radar Jogja
Ya, orang tua Olin yang berjualan di pasar suka membawa bawang merah sisa. Yang kecil-kecil tidak terjual. “Iseng aja pakai, ternyata bisa menghasilkan warna semburat merah yang cantik," jelasnya.
Tidak berhenti di situ, Olin terus berinovasi dengan memanfaatkan kulit jengkol dan pisang. Ternyata kulit jengkol menghasilkan warna coklat pekat yang indah, begitu pula dengan kulit pisang juga berhasil menghasilkan warna yang indah.
"Jadi benar-benar apa yang ada di lingkungan kita coba aja. Ternyata menghasilkan warna tertentu dari limbah rumah tangga," ujar perempuan lulusan Public Relation Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta yang memang suka fesyen dan terus belajar untuk melakukan riset dan percobaan.
Seiring berjalannya waktu, Olin meminta ibu-ibu di lingkungannya untuk mengumpulkan kulit bawang merah. Lambat laun mulai berkembang, para perempuan kemudian diajari membuat ecoprint yang kemudian bisa dijual dan meningkatkan perekonomian saat pandemi Covid-19 masih berlangsung.
"Berusaha riset untuk menemukan warna lain dari limbah rumah tangga. Karena kami juga ingin memberdayakan perempuan desa," imbuhnya.
Lebih lanjut, Olin menjelaskan proses pembuatan ecoprint limbah rumah tangga yang diajarkan melalui dua proses, yakni proses scouring dan mordanting. Pada proses scouring dilakukan pembersihan kotoran pada kain yang berbahan natural. "Biasanya kain ada sisa kotoran dari pabrik yang membuat kain ini. Jadi kita hilangkan sisa kotorannya," ujarnya.
Selanjutnya, proses mordanting dilakukan. Tujuannya membuka pori-pori kain agat zat pewarna tumbuhan bisa masuk ke kain. Olin menegaskan proses ini sangat penting. Sebab berkaitan dengan keawetan dari ecoprint yang telah diproduksi. "Habis mordanting langsung proses ecoprint setelah itu dilakukan penguncian agar warna gak ilang," imbuhnya.
Atas inovasi dan upaya memberdayakan masyarakat, Olin berhasil mewakili Indonesia dalam ajang YSEALI Summit 2022 di Kamboja pada Desember 2022 kemarin. Inovasinya memang terlihat sederhana, namun berdampak besar bagi lingkungan dan masyarakat.
"Program peningkatan kapasitas dari Amerika untuk pemuda-pemudi dari ASEAN dan Timor Leste. Tema tahun kemarin economic empowerment. Saya gunakan kegiatan ini (ecoprint dan pemberdayaan, Red) dan lolos," ujarnya.
Lebih lanjut, Olin mengatakan pandemi Covid-19 membuat penghasilan para petani di lingkup tempat tinggalnya di Desa Wonorejo, Sariharjo, Ngaglik, Sleman turun drastis. Di sisi lain, Olin melihat potensi tanah yang ada di desanya subur dan banyak tanaman yang bisa dikembangkan. Tercetus ide untuk menggandeng kelompok wanita tani (KWT).
"Misalnya ada daun talok, daun yang ecoprintable terus saya melihat bagaimana kalau ibu-ibu ini kita ajari ecoprint. Ada pendampingan UMKM juga bersama ibu-ibu. Prosesnya penanaman kerjasama kelompok KWT untuk pembibitan jadi mereka bisa dapat penghasilan dari pembibitan," jelasnya. (bah) Editor : Editor Content