MEITIKA CANDRA LANTIVA, SLEMAN, Radar Jogja
Kakek yang bernasib malang ini berinisial YK, 75, warga Padukuhan Bronggang, Kalurahan Argomulyo, Cangkringan. Ia diserang kawanan tawon vespa saat hendak memperbaiki talang air rumahnya. Sempat dibawa ke rumah sakit, namun nyawanya tak terselamatkan.
Peristiwa itu terjadi pada Minggu sore (1/1), sekitar pukul 15.00. Kapolsek Cangkringan AKP Cerryn Nova Madang Putri mengungkapkan, YK saat itu hendak menambal talang air yang bocor. Lalu lansia tersebut naik ke atap rumah dan menemukan gundukan tanah yang dikira sarang semut.
“Gundukan tanah itu dibersihkan menggunakan kayu. Namun tiba-tiba muncul gerombolan tawon keluar dari sarang, kemudian menyerang korban,” kata Cerryn Nova kemarin (2/1). Korban sempat berteriak minta tolong dan seketika pingsan.
Korban akhirnya mendapatkan pertolongan dari keluarga dan warga sekitarnya. Pada pukul 20.00, korban sempat dibawa ke klinik untuk mendapatkan obat suntik anti nyeri. Lalu pulang. Namun pada pukul 00.00, korban kembali dibawa ke RS. Sekitar pukul 02.00 Senin dini hari, korban meninggal dunia. “Ya, dimakamkan hari ini (kemarin, Red),” kata perwira Polwan ini.
Pasca kejadian ini, Polsek Cangkringan sinergi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pemadam Kebakaran Satpol PP Sleman dan forum komunikasi pimpinan kecamatan (Forkompimcam) serta Bhabinsa, Bhabinkamtibmas hendak mendatangi lokasi kejadian. Kemudian melakukan operasi tangkap tawon (OTT). “Menyampaikan edukasi, bagaimana penanganan apabila menemukan sarang tawon,” ungkapnya.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Kabupaten Sleman Bambang Kuntoro mengimbau masyarakat agar berhati-hati ketika mendapati sarang tawon vespa. Jika ingin membongkar sarang itu, hendaknya melaporkan kepada BPBD atau tim reaksi cepat tanggap Damkar Sleman untuk melakukan operasi tangkap tawon (OTT). “Nanti malam kita akan lakukan ke TKP Argomulyo, Cangkringan,” katanya.
Menurutnya, pembongkaran sarang tawon tidak bisa asal. Melainkan dilakukan oleh petugas dengan keahlian khusus. Sebab, berbahaya. Jika terkena sengatan, dapat menimbulkan rasa nyeri dan bengkak. Bahkan menimbulkan fatalitas.
“Kami punya alatnya, alat pelindung diri (APD), biasanya OTT digelar malam hari,” kata Bambang. Disebutkan, berdasarkan data laporan OTT ke BPBD Sleman, terakhir kejadian serupa Desember lalu. “Ada dua kasus,” katanya. (laz) Editor : Editor Content