Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gereja yang Tumbuh untuk Mengayomi

Editor Content • Minggu, 25 Desember 2022 | 14:10 WIB
SENTUHAN ROMO MANGUN: FX Sarwono menunjukkan berbagai arsitektur karya Romo Mangun yang masih dipertahankan di Gereja Katolik Santo Albertus Agung, Jalan AM Sangaji, Jetis, Kota Jogja.(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)
SENTUHAN ROMO MANGUN: FX Sarwono menunjukkan berbagai arsitektur karya Romo Mangun yang masih dipertahankan di Gereja Katolik Santo Albertus Agung, Jalan AM Sangaji, Jetis, Kota Jogja.(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Gereja Katolik Santo Albertus Agung merupakan salah satu bangunan monumental. Rumah ibadah ini beralamat di Jalan AM Sangaji No 20 Cokrodiningratan, Jetis, Kota Jogja. Lokasinya itu membuat gereja yang diresmikan pada November 1965 ini dikenal sebagai Gereja Jetis.

Bangunan gereja tampak berbeda dengan bangun lain di sekitarnya. Berada di tengah kota dengan hiruk pikuk kepadatan bangunan menjulang, Gereja Jetis justru memiliki bangunan rendah. Suasananya teduh oleh rindang pohon dan hembusan angin yang bebas mengalir.

Bendahara Paroki Gereja Jetis FX Sarwono mengungkapkan, arsitektur gerejanya merupakan karya RD Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Seorang imam gereja yang akrab disapa Romo Mangun.
Sementara penamaan gereja diambil dari sosok Monseigneur Albertus Soegijapranata SJ. Sebagai ungkapan hormat dan cinta pada pribadi seorang Soegija.

“Beliau itu (Soegija, Red) Pahlawan Nasional, maka ada tekad untuk meneladani semangat dan pengabdian beliau kepada bangsa, negara, dan gereja. Jadi nama pelindung yang dipilih untuk Paroki Jetis adalah nama baptis Romo Soegija, yakni St Albertus Agung,” jelasnya kepada Radar Jogja dalam sela aktivitasnya menyambut Natal.

Ada ikatan penting antara Romo Mangun dan Romo Soegija. Kedua sosok ini penuh tauladan dalam merangkul masyarakat. Keduanya pun tokoh pejuang. Semangat Romo Mangun dinilai Sarwono sejalan dengan Romo Soegija. Sama-sama untuk memperjuangkan masyarakat dari penindasan. “Sehingga kami tertuntun untuk terus melakoni kebijakan dari dua sosok itu,” sebutnya.

Pernah bertemu langsung dengan Romo Mangun, Sarwono mencontohkan sikap-sikap yang diteladaninya. Pembangunan Gereja, salah satunya untuk mewadahi keimanan warga bantaran Kali Code. “Dulu kawasan itu (sempat mau digusur, Red), Romo Mangun yang mengubah. Kiprahnya Romo Mangun memang banyak,” ujarnya.

Kemampuan Romo Mangun dalam merekatkan diri pada masyarakat juga dikagumi oleh Sarwono. “Sampai sekarang, kami menganut hidup kebersamaan dan peduli pada orang yang membutuhkan,” lontarnya.

Bahkan peringatan Hari Paroki Gereja Jetis yang dilaksanakan tiap November, selalu melibatkan warga sekitar gereja. Jadi perayaan bukan hanya disambut suka cita oleh umat Katolik yang beribadah di gereja ini. Tapi juga seluruh masyarakat dari berbagai keyakinan.

“Kami masih menganut itu, dalam Hari Paroki kami kenduri bersama warga sekitar. Mengambil pimpinan doa dari Islam, doa lintas agama,” beber Sarwono.
Nah, terkait dengan arsitektur bangunan Gereja Jetis, Sarwono menyebut masih berusaha mempertahankan bentuk asli karya Romo Mangun. Ciri khas arsitektur karya Romo Mangun adalah memiliki bangunan rendah dengan banyak tiang penopang. “Jadi bangunannya kuat,” sebutnya.

Keunikan arsitektur lainnya adalah memanfaatkan barang bekas. Sentuhan ini terlihat pada bagian penutup atap yang terbuat dari potongan kayu-kayu bekas. Lantai gereja juga menggunakan pecahan keramik. Selain itu, jendela gereja menggunakan potongan-potongan bekas kaca yang justru membuatnya artistik.
“Jadi barang bekas tidak ada yang dibuang. Semua digunakan. Sikap ini masih kami pertahankan sampai sekarang. Aksesoris gereja saat Natal juga dibuat dari barang bekas,” ungkapnya.

Sentuhan tangan Romo Mangun juga terdapat pada muka utama gereja. Sebuah relief yang merupakan pencitraan dari kisah dalam Al-Kitab. Mengisahkan tentang pohon kehidupan yang awalnya merupakan biji sesawi. Pola merupakan mozaik pecahan botol kaca yang berkilau bila diterpa cahaya. Disusun tampak seolah tumbuh dari tanah dan menjulang sampai ke langit-langit bangunan.
“Ini filosofinya, walaupun kecil, tapi bisa mengayomi banyak kehidupan. Menggambarkan kami pun sebagai umat yang kecil juga harus bisa mengayomi semua makhluk,” tandasnya. (fat/laz) Editor : Editor Content
#Gereja Katolik