Pemilik usaha itu bernama Junada dan menamai usahanya dengan namanya sendiri. Saat bertandang ke rumahnya, Radar Jogja bertemu dengan anak bungsunya bernama Zulfina Rufaidah, 24, yang kemudian meneruskan bisnis bapaknya.
“Bapak meninggal 2011. Kenapa saya mau meneruskan, karena ini usaha yang benar-benar dirintis dari nol sama bapak. Jadi saya pengen gimana caranya usaha ini ada. Walaupun gak sejaya kayak bapak dulu, pengennya masih jalan,” jelasnya saat ditemui di rumahnya, Jumat (16/12).
Fina, panggilannya, mengakui sempat mengalami kendala di awal. Namun berkat semangat dan tekadnya meneruskan bisnis peninggalan orang tua, lulusan S1 Psikologi ini terus belajar. Saat teman-temannya sibuk bekerja untuk perusahaan lain, dia dengan bangga meneruskan usaha warisan bapaknya.
“Gak bisa egois juga, toh pekerjaan ini juga menurut saya suatu kebanggaan tersendiri bisa meneruskan usaha bapak yang dirintis dari nol,” ujarnya.
Dikatakan, usaha itu dirintis bapaknya dan jaya sejak ia masih kecil. “Di memory saya lupa, ingat sedikit jadi kayak merasa nostalgia, kayak hadir. Saya gak ada di masa itu, tapi saya merasa saat ini tu kayak di sini,” kenang anak terakhir dari empat bersaudara ini.
Fina bercerita awal mula bapaknya merintis usaha itu. Sebelum tahun 1982, bapaknya adalah seorang tukang servis payung keliling. Lalu muncul ide untuk mengembangkan usaha sendiri dengan mengambil rosok payung dari pabrik. Kemudian diperbaiki dan dijual kembali.
“Ambil rosok dari perusahaan-perusahaan besar itu kemudian dirakit sendiri, belajar sendiri. Ambil rosok terus didaur ulang, misal kalau karatan gimana jadi ga karat, patah diganti. Dulu bapak ambil naik kereta, dibopong sendiri,” jelasnya.
Usahanya membuahkan hasil. Dia mengembangkan bisnis lalu mengajak tetangga bergabung dan membuka lapangan pekerjaan. Seturut cerita orang, Fina menyebut usaha bapaknya besar dan memiliki banyak karyawan dari desa setempat. Pesanan datang dari dalam dan luar Pulau Jawa. “Berhasil tahun 1982, kemudian krisis 1998 karyawan berkurang,” ungkapnya.
Meskipun kondisi saat ini berbeda, Fina menekankan bisnis payung yang dia teruskan masih mempertahankan konsep yang diusung bapaknya. Kain yang digunakan untuk payung masih sama, tebal, dan berkualitas. Metode jahit juga masih manual dan dipastikan kuat. Menurutnya, kualitas adalah yang utama.
“Di sini masih pakai manual, Insya Allah kualitas bagus. Dari kain, masih pakai yang dulu bapak pakai. Kalau sekarang kan tipis. Kain tebal dan jahitan manual bakoh dan awet. Mungkin saya ketinggalan dari variasi, misal payung dipencet,” jelasnya.
Dikatakan, mungkin orang menilai bagus sehingga balik lagi ke tempat dia karena kualitasnya. “Kalau barang jelek jual harus jujur. Insya Allah kualitas kita masih sama. Jahitan juga masih pakai manual, jadi gak gampang lepas,” lanjutnya.
Fina berharap bisnis payung yang dirintas bapaknya terus berjalan. Dia mengaku tidak muluk-muluk, tidak harus sukses seperti sebelumnya. Menurutnya, rezeki sudah ada yang atur. Bisnis ini dia lanjutkan sebagai upaya untuk mengingat perjuangan orangtuanya.
“Saya berharap bisnis ini terus berjalan, terus ada. Kalau nanti saya gak bisa nerusin sampai akhir, ada kakak saya yang mau nerusin. Fokus bukan untuk jadi lebih dari bapak, tapi fokus saya bisa terus jalan, tetap ada biar orang yang dulu beli ke sini sambil mengenang gitu,” lanjutnya.
Saat ini dia mempekerjakan tiga orang karyawan. Pesanan yang diterima bervariasi, tergantung musim. Hal yang sah apabila usaha naik dan turun. Adapun jenis payung yang diproduksi, antara lain, payung standar, payung golf, payung semi lipat, atau payung custom sesuai pesanan. “Kalau panas juga gak papa, namanya jualan, ada pasang surutnya,” ujar Fina. (lan/laz) Editor : Editor Content