RADAR JOGJA - Memiliki keterbatasan tidak menjadi halangan bagi Gayuh Satrio untuk menorehkan prestasi di bidang olahraga catur khususnya, sampai ke ajang Internasional. Meski memiliki gangguan penghilatan low vision, medali emas beberapa kali berhasil ia peroleh. Hingga belum lama ini, diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dari Presiden Joko Widodo karena prestasinya.
WINDA ATIKA IRA P, Jogja, Radar Jogja
Berbagai prestasi yang diraih Gayuh sapaan akrabnya, tak terlepas dari sang Ayah. Ketertarikan dengan catur sejak usia TK itu diturunkan dari Hari Wahyudi yang juga memiliki hobi bermain catur. Meski dalam bermain harus dengan penerangan yang memadai, namun berkat keturunannya laki-laki 26 tahun itu bisa mengharumkan nama DIJ dan Indonesia di kancah Internasional. “Suka catur awalnya dari ayah, cuma suka ada teman-teman ayah pada main ke rumah. Kemudian awalnya diajarin ayah, sejak usia TK,” katanya Selasa (8/11).
Gayung bersambut, karena terlihat ada bakat dalam bermain catur kemudian diseriusi. Orang tuanya kemudian mendatangkan pelatih khusus untuk anak kedua dari dua bersaudara itu dari usia SD. Seiring berkembangnya waktu mengikuti latihan di pemusatan latihan nasional (Pelatnas) di Jakarta agar sungguh-sungguh menjadi atlet catur. “Sebelumnya pernah ikut di kejuaran-kejuaraan umum gitu,” ujarnya.
Setelah masuk pelatnas, membawa warga Rotowijayan, Kadipaten, Keraton itu untuk menambah jam terbang dalam berkompetisi di berbagai ajang nasional maupun internasional. Gayuh kemudian pernah menyabet berbagai prestasi sejak 2016, yakni dalam ajang Pon Peparnas di Jawa Barat berhasil menyabet dua emas dan 1 perak. Kemudian pada ajang Asean Para Games 2017 di Kuala Lumpur menyabet tiga emas dan satu perak. Dan Asian Para Games 2018 di Jakarta berhasil menyabet satu emas, satu perak, dan satu perunggu.
Serta belum lama ini juga ia berhasil menorehkan prestasi di ajang Asean Para Games XI Solo 2022, dua emas dan tiga perak berhasil disabetnya dalam beberapa kelas yang dipertandingkan. Berkat torehan prestasi itu, Gayuh juga mendapat apresiasi dari Pemprov DIJ sebesar R p300 juta. “Buat membahagiakan orang tua dan buat masa depan juga,” ucapnya.
Perjalanan Gayuh bukan perjalanan yang mudah, sang ibu Herni Miji Astuti merasa terharu jika mengenag perjalanannya. “Perjalanan Gayuh ini tidak mudah, (penuh) lika-liku. Kalau bercerita hati ini rasanya terharu. Dari lahir ada kekurangan,” ceritanya.
Karir Gayuh di dunia catur ini dikatakan melewati berbagai sandungan. Mulai dari kekurangannya hingga terbatasnya informasi bahwa di Indonesia terdapat National Paralympic Committe (NPC). Kini berkat keikhlasan menerima kondisi dan semangat Gayuh, membawanya hingga seperti sekarang ini. “Awalnya dari bu Mardiyanti sudah melirik Gayuh sejak duduk di SMP. Mau menyampaikan takut tersinggung nggak enak, bisa nggak ikut yang difabel. Waktu itu belum, baru kelas 3 SMA tersampaikan saat Peparnas di Jawa Barat 2016,” jelasnya.
Pun dari kerja keras dan torehan berbagai prestasi di ajang nasional dan internasional juga, Gayuh telah diangkat menjadi PNS di Kemenpora sebagai atlet cabor catur. “Jadi dia tugasnya memang hanya berlatih meningkatkan prestasi dan memotivasi anak-anak yang lain,” tambahnya. (pra) Editor : Editor Content