Kejadian mengerikan itu berlangsung pagi sekitar pukul 07.30. Atap bangunan ruang kelas yang terbilang baru, ambrol dan menimbulkan korban luka para siswa di sekolah itu. Berdasarkan data, bangunan baru terdiri atas ruangan kelas IV, V, VI.
Dugaan awal, konstruksi rangka baja ringan tidak kuat menahan beban genting sehingga menyebabkan atap runtuh. Tercatat satu siswa meninggal dunia akibat kejadian ini. Namanya Fauzi, siswa kelas VI, setelah sebelumnya mengalami kritis dan menjalani perawatan intensif di RSUD Wonosari.
Korban Fauzi ditemukan dalam kondisi pingsan. Saat menjalani perawatan, Fauzi dilakukan pacu jantung serta dipasang ventilator. Namun tadi malam, jiwanya tak tertolong. Meninggalnya Fauzi ini dibenarkan Apec Fahrul Rozy, paman korban.
Selain jatuh korban tewas, peristiwa ambruknya atap sekolah ini menjadikan 11 siswa yang lain terluka. Mereka rata-rata tertimpa rangka baja ringan dan genting press.
Proses evakuasi terhadap para korban berlangsung sangat dramatis. Anggota kepolisian beserta relawan menyelamatkan para korban yang terjebak dalam reruntuhan. Rata-rata para korban mengalami luka pada bagian kepala.
Kapolsek Playen AKP Hajar Wahyudi mengatakan, dua pelajar dilarikan ke RSUD Wonosari, 10 lainnya menjalani perawatan di Puskesmas Playen. Untuk pasien di RSUD Wonosari satu rawat jalan, satu masih kritis (yang akhirnya meninggal tadi malam, Red). Semua pasien di Puskesmas Playen menjalani rawat jalan.
“Atap bangunan yang ambruk berada di lantai 2 bangunan sisi belakang sekolah. Saat itu aktivitas belajar belum dimulai, baru pengajian,” kata Hajar.
Seorang saksi mata, Jumiran, 53, warga Padukuhan Bogor II, Kalurahan Bogor, Kapanewon Playen, mengungkap detik-detik atap SD Muhammadiyah Bogor runtuh. Sebelum kejadian ia kebetulan berada tak jauh dari lokasi. “Runtuhnya nggak cepat, lambat. Didahului suara pletok, lalu ambrol,” katanya.
Melihat kejadian itu pihaknya langsung lari dan menuju ruangan kelas. Dia meminta anak-anak bersembunyi di kolong meja. Pada saat itu, Jumiran melihat seorang pelajar dalam kondisi terjepit. Beberapa jam kemudian semua korban berhasil dievakuasi. “Saya juga sempat minta bantuan warga menggunakan pengeras suara di masjid,” ungkapnya.
Lebih jauh dikatakan, sebenarnya konstruksi atap bangunan baja ringan dan genteng press sempat menjadi perbincangan. Bahkan warga juga menyoroti konstruksi baja ringan yang cenderung asal-asalan. “Itu yang membangun sudah tiga kali pemborong kalau nggak salah,” ucapnya.
Terpisah, Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul Winarno menduga, kerangka bangunan menjadi penyebab utama robohnya atap gedung. Gedung itu dibangun oleh pihak komite sekolah.
“Untuk bangunan baja ringan seharusnya gentingnya jangan yang berat supaya bisa mengantisipasi. Usianya, menurut informasi baru dua tahun. Dibangun oleh komite sekolah karena swasta. Jadi bukan dari dinas pendidikan dan pemkab,” kata Winarno.
Di bagian lain, Bupati Gunungkidul Sunaryanta meminta seluruh gedung sekolah dicek secara menyeluruh. Tindakan ini perlu dilakukan merespons kejadian atap ambruk di SD Muhammadiyah Bogor, Playen. “Jangan hanya karena harga bahan murah, kualitas bangunan terabaikan,” tandasnya.
Hingga kemarin sore, pihak dari SD Muhammadiyah Bogor, Playen, belum dapat dimintai keterangan. Menurut informasi, kepolisian masih menggali keterangan saksi-saksi dari internal sekolah. (gun/laz) Editor : Editor Content