Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tak Harus Beli Baru, Tren di Kalangan Muda

Editor Content • Minggu, 23 Oktober 2022 | 13:31 WIB
LEBIH HEMAT: Dimas Syukron Aris, warga Kalurahan Triharjo, Kapanewon Wates, Kulonprogo menenteng celana naptol (kanan). Harun Susanto tetap percaya diri dengan sisa jeans yang dulu pernah dinaptol.(HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA)
LEBIH HEMAT: Dimas Syukron Aris, warga Kalurahan Triharjo, Kapanewon Wates, Kulonprogo menenteng celana naptol (kanan). Harun Susanto tetap percaya diri dengan sisa jeans yang dulu pernah dinaptol.(HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Wenter atau kini lebih familiar orang naptol, adalah bahan pewarna sintetis yang kerap digunakan untuk pewarnaan ulang celana atau jeans pudar karena usia pemakaian. Pewarnaan dengan teknik celup cepat ini dulu pernah tren di tahun 2000-an.

“Kalau di Kulonprogo penggunaan naptol masih sampai sekarang, hanya biasanya digunakan oleh perajin batik. Kalau saya dulu juga wenter sendiri, waktu saya usia 19 tahun,” ucap salah seorang mantan pengguna naptol, Dimas Syukron Aris, 27, warga Kalurahan Triharjo, Kapanewon Wates, Kulonprogo (22/10).

Dijelaskan, wenter atau naptol kadang juga tidak menunggu warna celana atau jaket jeans memudar. Memang sengaja ingin ganti warna, kendati paling umum, naptol digunakan untuk menebalkan warna yang pudar. Tentunya dengan warna senada celana sebelumnya.

“Identik warna hitam, karena kepanasan dan kehujanan warnanya njebluk (pudar). Supaya kelihatan bagus lagi atau bahkan terlihat baru, alternatifnya ya dinaptol. Tapi untuk ganti warna, biasanya untuk pakaian dengan warna dasar celana putih, diganti menjadi hitam atau biru,” jelasnya.

Menurutnya, teknik naptol terbilang mudah, bahannya juga murah. Di tahun 2014 ia masih ingat harganya Rp 15 ribu untuk mewarnai satu celana. Tekniknya bahkan ia pernah dapat saat duduk di bangku SD. “Dulu waktu SD pernah diajarkan dan praktik langsung menaptol pakaian. Kalau dulu menggunakan malam untuk membatik itu, kemudian dicampur pewarna sintetis (naptol),” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Harus Susanto, 30. Ia mengaku pernah menaptol celana miliknya saat kuliah. “Kalau sekarang sudah tidak kober (tidak sempat). Mending beli baru. Kalau dulu pertimbangannya lenih hemat. Masih sekolah harus hemat, celana pudar dinaptol selesai, asalkan tidak robek. Kalau robek tidak bisa untuk kuliah,” kenangnya.

Ditambahkan, bahan celana atau kain yang cocok untuk naptol adalah jeans. Sementara untuk kekurangan dari teknik naptol ini, biasanya mudah luntur saat dicuci. Celana atau jaket umumnya milik sendiri yang sudah lama dipakai, namun tidak jarang celana atau jaket jeans hasil thrifting (beli bekas atau awul-awul, Red).

“Kalau cuci pakaian yang dinaptol, dipisahkan dengan cucian lainnya. Apalagi yang warnanya putih. Kadang sudah lama masih luntur. Saat pencampuran jadi menentukan untuk naptol ini agar pewarna sintetis bisa bekerja optimal dan awet. Kalau saya biasanya datang ke tukang naptol jika mau mewarnai celana jeans yang sudah pudar,” ungkapnya. (tom/laz) Editor : Editor Content
#Wenter