Dosen Pendidikan Teknik Boga Busana (PTBB) UNY Minta Harsana menyebut, cita rasa pedas memang dapat menambah kenikmatan dari setiap makanan yang dimakan. Sayangnya, para pelaku industri makanan membuat produk makanan dengan menghadirkan level kepedasan mulai 1-5. Atau pembeli menambah tarif jika ingin menambah level.
Bukannya menambah kenikmatan makanan. Pedas berlebih, dikhawatirkan akan mengubah rasa asli dari makanan. Oleh karena itu, pelaku industri bisa lebih memperhatikan pemilihan rasa pedas. Terlebih yang bisa diterima oleh banyak orang. “Di situlah pentingnya memilih sambal yang tepat agar memiliki cita rasa pedas yang pas karena semua orang bisa menikmati kadar pedasnya,” jelas Minta kemarin (16/9).
Sebagai seorang ahli Gastronomi, Minta paham akan perbedaan selera setiap orang berpengaruh pada penilaian atas suatu hidangan. Hampir semua orang menyukai rasa pedas, namun tidak semua orang menyukai rasa pedas yang berlebihan. Dengan kata lain, tingkat toleransi untuk menikmati makanan pedas berbeda-beda.
Hal itu sesuai dengan hasil penelitian University of California pada 2003 yang telah menemukan adanya molekul lipid. Yakni sekelompok senyawa berkaitan dengan asam lemak yang memainkan peran penting dalam mengendalikan sensasi terbakar pada lidah. Sensasi tersebut diciptakan oleh senyawa capsaicin ketika berada dalam mulut.
Perbedaan selera pedas, lanjut Minta, juga dipengaruhi oleh budaya kuliner dan kebiasaan orang saat makan. “Misalnya seperti orang-orang Meksiko atau India, karena secara alami memiliki toleransi yang tinggi terhadap rasa pedas. Sebab, mereka telah mengonsumsi makanan pedas sejak masih kecil,” bebernya. (aya/eno) Editor : Editor Content