Iwan Nurwanto, Jogja, Radar Jogja
Sejuk terasa saat Radar Jogja menyambangi kediaman Den Baguse Ngarso, belum lama ini. Rimbun pepohonan di halaman rumahnya menghalau matahari yang tengah terik. Kediaman Susilo sendiri berada di Kampung Jogokariyan, Mantrijeron, Kota Jogja dan sudah puluhan tahun pria 63 tahun itu tinggal di tempat tersebut. Rumahnya cukup unik karena walaupun berada di tengah kota. Halamannya sangat luas, sekitar dua hektar.
Nama Den Baguse Ngarso memang sudah lama dikenal sebagai karakter antagonis serial TV Mbangun Deso. Nama itu pula yang mengantarkan Susilo, tenar di dunia panggung hiburan. Alumni SMA Kolese De Britto itu diketahui mengawali karir hiburannya dari panggung ketoprak. Kemudian merambah film. Sampai saat ini dikenal sebagai MC.
Di balik itu, Susilo juga merupakan seorang abdi negara. Terhitung sudah sejak tiga tahun lalu ia pensiun mengajar sebagai guru di SMKN 1 Bantul. Namun bukannya mengajar seni peran, ia justru mengajar ilmu pemasaran, karena ia sendiri merupakan lulusan ilmu ekonomi. Sebelum di SMK N 1 Bantul, Susilo sendiri mengawali karirnya sebagai guru honorer dan sempat mengajar di SMKN 1 Wonosari dan SMA Kolese De Britto.
Disela pengabdiannya sebagai guru itu, Susilo juga nyambi aktif di panggung-panggung ketoprak. Melalui Teater Gandrik yang didirikannya bersama Heru Kesawa Murti, Saptaria Handayaningsih, dan Jujuk Prabowo. Susilo pun besar namanya seniman ketoprak di Jogjakarta. Kemampuannya di seni peran pun makin melebar ketika ia ditarik menjadi salah satu pemeran di Mbangun Deso. “Serial televisi Mbangun Deso memang menjadi salah satu pintu rezeki saya,” ujar Susilo saat ditemui.
Meski diakuinya pendapatan dari dunia hiburan jauh lebih besar, ia memilih tidak meninggalkan pekerjaan utamanya sebagai guru. Itu karena ia menganggap guru sebagai sebuah pekerjaan. “Dunia seni hanya sebagai wadah bersenang-senang,” ungkapnya.
Akibat rutinitas yang padat saat itu, Susilo mengaku sering kurang jam tidur. Malam hari, ia harus mementaskan ketoprak. Sementara pagi hari, harus melanjutkan pengabdiannya sebagai guru. Namun ia justru mengaku senang dengan hal tersebut, karena dua hal itu merupakan sesuatu yang dia senangi. “Kalau bisa dilakukan dua-duanya ngapain harus melepaskan salah satunya,” ujarnya.
Di sisi lain, Susilo mengaku senang dengan ilmu sejarah. Bahkan, dulunya ia ingin melanjutkan kuliah ke ilmu sejarah namun terhalang keinginan orang tuanya. Sehingga selesai menyelesaikan sekolah menengah atasnya pun ia langsung melanjutkan kuliahnya di jurusan ekonomi IKIP Sanata Dharma, yang sekarang bernama Universitas Sanata Dharma.
Guna memuaskan hasratnya di bidang sejarah itu, tak jarang Susilo kerap membaca buku-buku maupun mendengarkan cerita tentang sejarah. Yang kemudian dari referensinya tersebut ia tuangkan di naskah ketoprak untuk lalu dipentaskan di panggung-panggung. Dalam upaya berkesenian itu, setidaknya pria kelahiran 5 Januari 1959 itu sudah menerbitkan sekitar 30 naskah ketoprak. “Dalam membuat naskah, saya buat yang ada basis sejarahnya seperti serat atau tulisan,” jelas Susilo. (bah) Editor : Editor Content