Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Membekas, 17 Tahun Jadi Den Baguse Ngarso

Editor Content • Minggu, 5 Juni 2022 | 15:12 WIB
TOKOH ANTAGONIS: Susilo Nugroho, pemeran Den Baguse Ngarso dalam serial “Mbangun Desa” saat ditemui Radar Jogja di kediamannya, Kampung Jogokaryan, Kota Jogja, Kamis (3/6).(IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)
TOKOH ANTAGONIS: Susilo Nugroho, pemeran Den Baguse Ngarso dalam serial “Mbangun Desa” saat ditemui Radar Jogja di kediamannya, Kampung Jogokaryan, Kota Jogja, Kamis (3/6).(IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Serial “Mbangun Desa” begitu membekas para pemerannya. Salah satunya adalah Susilo Nugroho, pemeran Den Baguse Ngarso. Saat ditemui di kediamannya, Kampung Jogokaryan, Kota Jogja, Susilo mengaku hampir dua dekade atau tepatnya 17 tahun ia berperan sebagai Den Baguse Ngarso.

Nama itu pula yang kemudian membuatnya cukup dikenal di panggung ketoprak maupun sebagai master of ceremony (MC). Dalam serial TV ini, Den Baguse Ngarso merupakan tokoh antagonis yang memiliki sifat angkuh dan gila hormat karena merupakan orang terpandang.

Mengenang masa jaya dalam serial ini, Susilo mengaku “Mbangun Desa” cukup membekas pada dirinya karena sudah dua orde ia membintangi serial ini. Bahkan tak jarang karakter dalam peran itu juga sering terbawa dalam setiap acara panggungnya.

Ia pun tidak menampik kalau nama Den Baguse Ngarso juga yang membuka pintu rezekinya dalam dunia hiburan. “Kalau dibilang membekas, ya pasti membekas karena sudah cukup lama saya di situ. Dan itu sudah saya anggap sebagai perjalanan berkesenian saya. Awalnya saya dari teater, lalu diajak ke ‘Mbangun Desa’ dan sekarang malah ngerambah dagelan,” ujar Susilo pada Kamis (3/6) itu.

Pensiunan guru SMKN 1 Bantul ini pun mengaku setiap proses syuting serial “Mbangun Desa” juga selalu menjadi hal yang berkesan. Namun di luar itu, hal yang paling berkesan dari serial televisi ini adalah tentang berhasilnya program penyuluhan. Sebab, “Mbangun Desa” sendiri merupakan program televisi yang mempunyai tujuan edukasi namun dibumbui komedi agar tidak membuat penonton bosan.

Dikenang Susilo, pernah dalam salah satu episode menceritakan tentang pentingnya saling tenggang rasa dalam berkehidupan sosial. Hal itu digambarkan dengan budaya menjemur gabah di depan rumahnya sendiri, yang terkadang menutupi jalan. Dan itu sudah menjadi kebiasaan orang-orang desa yang berprofesi sebagai petani.

Budaya itu pun diangkat dalam serial “Mbangun Desa” dengan kemasan yang lucu. Di mana kala itu digambarkan dengan cerita aktivitas penjemuran gabah di sebuah pemukiman, namun menutupi sisi kanan maupun kiri jalan.
Kondisi ini menyulitkan pengendara yang lewat, sehingga oleh pemeran pengendara motor pun terpaksa mematikan motornya lalu bermanuver zig-zag agar tidak menggilas gabah yang dijemur. Tak berselang lama setelah episode itu tayang, Susilo mengaku mulai ada perubahan dalam kebiasaan masyarakat di suatu desa yang mengubah penjemuran secara satu sisi jalan, agar tetap tidak mengganggu pengguna jalan yang lewat.

Susilo menyebut sebenarnya masih banyak hal yang bisa diceritakan dalam setiap episode ataupun proses syuting “Mbangun Desa”. Namun demikian, menurutnya, yang paling penting dalam perannya di serial itu adalah tentang bagaimana pesan atau penyuluhan bisa tersampaikan kepada masyarakat.

“Khidmat ‘Mbangun Desa’ waktu itu kan penyuluhan. Namun dalam hal ini kami membuat, prinsipnya mengingatkan dan bukan nuding-nuding (menggurui, Red). Sehingga sebenarnya yang paling mengesankan bukan isi penyuluhannya, tapi perubahan perilaku (edukasinya tersampaikan) di masyarakat,” tandas alumni SMA Kolese De Britto Jogja ini. (inu/laz) Editor : Editor Content
#MBANGUN DESA