Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Irigasi Tercemar, Sawah Tak Bisa Ditanami Padi

Editor Content • Selasa, 10 Mei 2022 | 15:02 WIB
ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA
ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA
 

RADAR JOGJA - Dampak aktivitas TPST Piyungan yang dirasakan warga Banyakan, ternyata memprihatinkan. Saluran irigasi sungai yang menjadi sumber utama pengairan lahan persawahan milik masyarakat, tercemar. Kondisi itu diperburuk dengan temuan limbah medis di sekitar permukiman warga.

Salah seorang warga Banyakan yang berprofesi sebagai petani, Paimo, 57, mengatakan limbah dari TPST Piyungan diakui sudah cukup mencemari lahan pertanian di desanya. Sebab, air lindi atau air dari hasil penumpukan sampah, sudah masuk ke saluran irigasi dan mencemari lahan pertanian di Padukuhan Banyakan.

Ia menyebut dampak dari tercemarnya saluran irigasi itu membuat pertumbuhan tanaman padi di lahan persawahan menjadi tidak maksimal. Sampai-sampai petani di Banyakan saat musim hujan tidak bisa lagi menanam padi dan hanya bisa ditanami kolonjono atau pakan ternak, lantaran sawahnya dibanjiri limbah. Ada sekitar 15 hektare lahan sawah yang terdampak aktivitas pembuangan TPST Piyungan.

Photo
Photo
PEKAT: Kondisi saluran irigasi yang berwarna hitam dan warga saat menunjukkan air yang tercemar lindi TPST Piyungan.(IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)

Pantauan Radar Jogja di lokasi kemarin (9/5), saluran irigasi di padukuhan itu sangat tercemar. Warna air di sungai yang berada di dekat lahan persawahan menjadi hitam pekat dan berbau menyengat. Kondisi ini terjadi hampir di sepanjang aliran yang berada sangat dekat dengan persawahan.

“Kami merasakan dampak seperti ini sudah 28 tahun. Saluran irigasi selalu berwarna hitam dan ketika banjir pasti masuk ke sawah bersamaan dengan limbah plastik. Tanaman padi pun langsung mati,” ujar Paimo saat ditemui.
Selain dampak terhadap lahan persawahan, warga Padukuhan Banyakan juga dihadapkan dengan banyaknya limbah medis di sekitar permukiman warga. Paimo menyatakan, limbah medis berupa jarum suntik kerap ditemukan masyarakat saat sedang beraktivitas seperti bertani.

Oleh krena itu, ia pun menuntut agar TPST Piyungan bisa ditutup secara permanen, lantaran permasalahan dan dampak dari aktivitas pembuangan sudah dirasakan masyarakat dalam jangka waktu lama. Di sisi lain, menurut warga, pemerintah juga seakan tutup mata dengan permasalahan yang dihadapi warga di sekitar TPST Piyungan.

“Selama 28 tahun masyarakat belum mendapat solusi dari pemerintah terkait dampak TPST Piyungan. Sehingga, kami berharap TPST Piyungan bisa ditutup total,” tandasnya. (inu/laz) Editor : Editor Content
#TPST Piyungan