“Seluruh CCTV terpasang dan menghadap di kawasan Jalan Gedongkuning, Kotagede, Kota Jogja,” ungkap Dirreskrimum Polda DIJ Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi saat ditemui di Mapolresta Jogja, kemarin (5/4).
Ade mengakui pelaku belum tertangkap. Namun demikian pihaknya sudah mengindentifikasi dua motor yang digunakan lima pelaku saat peristiwa itu ang terjadi. “Ini kami dapatkan dari keterangan saksi dan rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian,” ujar perwira menengah Polda DIJ ini.
Pada kesempatan ini, Ade juga mengungkap fakta baru terkait kasus penganiayaan yang menyebabkan anak politisi Partai Nasdem dan anggota DPRD Kebumen itu meninggal dunia. Kelompok pelaku dan kelompok korban ternyata sempat bertemu di ruas jalan Ringroad Selatan.
Kedua kelompok juga hampir bersinggungan karena suara knalpot motor. Kelompok korban Daffa Adzin Albazith, lanjutnya, sempat menyalip rombongan pelaku. Aksi ini dibalas dengan raungan suara knalpot motor para pelaku. Rombongan korban sempat menunggu di simpang empat Jalan Imogiri, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan.
“Lima motor dikemudikan delapan orang ingin mencoba kecepatan motornya. Karena suara cukup besar, di jalur lambat kelompok korban bertemu dengan dua motor kelompok pelaku yang dinaiki lima orang. Karena terganggu suara bising kelompok korban, maka kelompok pelaku langsung blayer membalas,” jelas Ade.
Keterangan ini, didapatkan dari 11 saksi. Peristiwa berlangsung sekitar 01.00, Minggu (3/4). Setelah dipastikan tak dibuntuti, kelompok korban melanjutkan perjalanan ke arah Gedongkuning, Kotagede, Kota Jogja. Kelompok korban langsung berhenti di sebuah warung makan di kawasan Jalan Gedongkuning. Beberapa orang masuk dan memesan makanan. Sisanya masih berada di kendaraan masing-masing.
“Lalu kelompok pelaku lewat di sebelahnya sambil blayer dan mengumpat dengan kata-kata asu bajingan. Hal ini memicu kelompok korban mengejar. Pelaku dengan kecepatan tinggi, lari ke arah utara, kemudian empat motor kelompok korban mengejar,” katanya.
Dari saksi diperoleh keterangan kelompok pelaku menunggu di sisi utara. Salah seorang di antaranya membawa sabuk atau kain dengan mata gir pada ujungnya. Begitu kelompok korban mendekat, gir langsung disabetkan agar mengenai pengendara.
“Motor pertama tidak kena ayunan gir. Motor kedua kena di mana pengemudi tidak kena dan pembonceng kena ayunan gir. Karena kecepatan tinggi, maka motor korban belok ke arah timur dan jatuh di situ,” ungkap perwira polisi ini.
Penganiayaan ini membuat korban Daffa Adzin Albazith tumbang. Remaja berusia 17 tahun ini mengalami luka di bagian kepala. Sempat mendapatkan tindakan medis di RSPAU Hardjolukito, namun korban meninggal dunia pukul 09.30, Minggu (3/4).
Berdasarkan keterangan ini, Ade menyimpulkan aksi tersebut sudah terencana. Acuannya adalah adanya aksi saling ejek antardua kelompok, hingga berakhir saling kejar dan penganiayaan dengan gir.
“Secara kasuistis kemarin itu tawuran, karena ada proses tersinggung dan ejek-ejekan dari dua kelompok. Kelompok laki-laki sebagian dewasa dan pelajar. Dalam KUHP disebut penganiyaan,” katanya. (dwi/wia/laz) Editor : Editor Content