MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja
Tambal ban Mister Pinkki terletak di Jalan Kaliurang Km 8, tepatnya di depan PT PLN Persero Kentungan, Kalurahan Sinduharjo, Ngaglik, Sleman. Sudah 15 tahun Yunanto menjajakan jasanya sebagai tukang tambal ban. Uniknya, semua perkakas yang digunakan berwarna pink. Ada pompa manual, kompresor, motor modifikasi, kursi, alat penambal, semua dia beri warna pink.
“Warna pink ini membawa berkah,” ujar Yunanto kepada Radar Jogja kemarin (3/4). Sebab, berkat keunikan ini bengkel tambal ban miliknya menjadi terkenal. Selalu diiminati pengunjung karena penasaran. Tak hanya sekadar menambal. Bak artis, Yunanto kerap diajak foto bersama.
Sambil bekerja, dia bercerita. Hidup di tengah perkembangan yang semakin canggih dan modern tidaklah mudah. Terlebih bagi dirinya yang belum sempat mengenyam pendidikan sekolah. Sejak usia 12 tahun, dia berusaha banting tulang membantu di sebuah bengkel. Lalu, 15 tahun silam dia memutuskan membuka usaha sendiri.
“Saat itu modal saya hanya pompa ini, kemudian kunci-kunci ini. Belum lengkap,” ungkapnya. Dari hasil jerih payahnya, tiap hari dia tabung untuk membeli perkakas lainnya. Terbaru kompresor. Dia beli sepekan lalu, sebab kompresor lamanya sudah rusah.
Selain perabotan bengkel yang serba pink, semua barang-barang dan perabotan rumahnya juga dia warnai pink. Seperti televisi, dispenser, baju serba pink, kucir rambut, tempat makan, gelas kaca. Bahkan satu-satunya ayam peliharaan juga dia warnai pink.
Berkat tampilan bengkel tambal ban yang beda, bengkel miliknya kerap dilirik pelanggan. Paling tidak dia mendapatkan 10 pelanggan per harinya. Tambal ban dibanderol Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu atau dua kali lipatnya menyusaikan situasi dan kondisi.
“Tambal ban siang, malam dan saat libur hari besar beda,” ungkap pria 35 tahun itu. Pada siang hari, pukul 08.00-17.00 sekali tambal ban dibanderol Rp 10 ribu. Bila malam hari pukul 18.00-21.00 tarifnya naik menjadi Rp 15 ribu dan pada hari besar naik lagi menjadi Rp 20 ribu.
Banderol harga semakin mahal apabila daya saingnya sedikit. Kendati begitu, paling banter dia hanya melayani 15 pelanggan dalam satu hari. “Dan itu pun saya sudah kewalahan,” terangnya.
Yunanto hanya satu-satunya yang membuka bengkel tambal ban serba pink di Kabupaten Sleman. Melalui style inilah sebagai ajang promosi. Bila merasa bosan menjajakan usahanya di lokasi, maka dia akan berkeliling menggunakan motor hasil modifikasinya itu.
“Ya, keliling ke mana saja yang disuka. Kadang-kadang dekat Stadion Maguwoharjo. Lalu kembali lagi ke sini,” bebernya. Satu pesan Yunanto, jangan takut memulai usaha dari nol, karena dari usaha kecil jika terus digeluti suatu saat bisa menjadi besar. Sebagaimana dia yakini.
Lepas dari itu, warna pink memiliki sejarah masa lampau. Kiranya pada abad 19 di Inggris, pink yang dianggap warna merah pucat ini dianggap sebagai warna maskulin dan dikenakan pada laki-laki dewasa dilengkapi dengan seragam, pita, dan dekorasi warna pink. (laz) Editor : Editor Content