Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Resign dari Bank, Lepas Stigma Pencuri Barang Antik

Editor Content • Kamis, 3 Maret 2022 | 15:45 WIB
KOLEKSI PRIBADI : Dwinel bersama barang-barang antiknya yang dijual di event Pasar Kangen 2022. Kini hasil jualan barang antiknya bisa menjadi sumber penghasilan utama
KOLEKSI PRIBADI : Dwinel bersama barang-barang antiknya yang dijual di event Pasar Kangen 2022. Kini hasil jualan barang antiknya bisa menjadi sumber penghasilan utama
RADAR JOGJA - Dwi Haryadi,48, tak sekedar memajang barang-barang antik pada setiap gelaran event yang diikutinya. Menurutnya kolektor barang antik sembari nguri-uri sejarah dan kebudayaan dari masa ke masa. Awalnya sekedar hobi, kini mampu mencukupi hidup.

WINDA ATIKA IRA P, Jogja, Radar Jogja

Dwi Haryadi memiliki nama antik Dwinel. Ia menggeluti hobinya mengoleksi barang antik sejak 2006 silam. Awalnya hobi yang dilakoni mengumpulkan barang-barang antik mulai dari koin-koin, uang kertas, dan merambah yang lainnya. Itu semua hanya pekerjaan sampingan. Kini, ia berkomitmen menggeluti hobinya itu dengan serius hingga menjadikan penghasilan utama.

“Dulu saya 15 tahun bekerja di bank swasta, keluar hanya untu mengabdikan hobi saya,” katanya ditemui koran ini di event Pasar Kangen 2022 di halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip DIJ, Rabu (2/3).

Hobi itu muncul karena ajakan dari rekan sejawatnya. Kemudian mulai mengoleksi dari barang antik koin-koin perak bersejerah, uang kertas dari berbagai negara, buku jadul, lukisan, hingga temuan manik-manik, dan lain sebagainya. “Kepuasan sih seperti ini, dapat barang bagus senang disimpan. Lama-lama ada yang nawar ya kasih,” ujarnya.

Warga Bantul itu tak sekedar ingin menggeluti hobinya. Lambat laun hobinya tersebut sebagai dasar untuk belajar atau nguri-uri sejarah dan kebudayaan dari setiap nilai produk yang didapatkannya.

Seiring berkembangnya waktu, barang yang dikoleksinya itu tak sekedar dikumpulkan dan dijual. Namun adanya barang-barang antik itu menjadikan rasa penasaran yang tinggi akan kronologis sejarah yang terjadi. Dan ia berusaha mencari tahu. “Ada nilai sejarahnya paling penting itu, kalau saya juga sambil belajar sejarah,” jelasnya.

Namun, perjalanannya untuk nguri-uri nilai sejarah dan kebudayaan dari barang antik dan langka yang didapatkannya ternyata tak mudah bagi Dwinel. Tantangan akan mendapatkan barang langka itu sulit diterimanya.

Kenapa? Ayah dua anak itu sempat terstigma pencuri karena mendapatkan barang-barang langka itu. Padahal, dirinya juga perlu merogoh kocek tinggi untuk mendapatkan barang tersebut. Barang yang menjadi sampah ketika sudah dibuang dan diambil perosok, akan menjadi barang bernilai tinggi bahkan berharga dan istimewa ketika sampai ke tangan para kolektor barang jadul. “Saya justru menyelamatkan sampah-sampah arsip yang sudah dibuang dan nggak dipakai,” terangnya.

Barang-barang antik yang dijualnya itu tak sedikit bernilai sejarah dan budaya. Di antaranya ada surat-surat saham, manuskrip Jawa, koleksi rokok zaman Belanda, kamera polaroid, koin-koin, uang kertas, radio jadul, helm penjajahan, kamera manual jadul, koleksi perangko, manik-manik temuan di sungai Musi dan masih banyak lainnya.

”Saya baru tahu kalau romusha teryata ada daftar upahnya masa itu 25 rupiah, 100 rupiah. Ada cap jempolnya sebagai tanda terima, saya simpan (arsip) ini buat koleksi pribadi, bentuk nilai sejarah,” sambungnya.

Dia tidak menampik, omzet yang didapat ini tak tanggung-tanggung antara RP 25 juta sampai Rp 35 juta per bulan. Jumlah ini diklaim lebih besar dengan penghasilan saat dulu menjadi karyawan bank swasta. Produk antiknya selain dijual offline melalui event tertentu, juga melalui empat platfrom marketplace. “Enakan begini nggak terikat dan nggak lelah, main hobi senang hatinya,” tambahnya.

Munculnya event Pasar Kangen yang sempat vakum dua tahunan akibat dampak pandemi itu bak menjadi angin segar bagi laki-laki 48 tahun itu. Bukan hanya sekedar bisa eksis kembali memajang barang-barang antiknya dan mencari keuntungan, melainkan bisa cukup senang dan bersemangat karena bisa berkumpul dan bertemu dengan para kolektor lain.

“Ya, sangat ditunggu sekali momen-momen seperti ini. Tidak hanya kami (pedagang) tapi juga dengan pembeli, karena antusias kami sebanding dengan even seperti ini,” imbuhnya. (bah) Editor : Editor Content
#Arsip DIJ #Jogja