Keluarga Ranto Wiyatno dan istri, Sumilah, warga Plumbungan, Putat, Patuk, Gunungkidul, punya pengalaman berharga tentang wesel pos. Sebagai perantau, Ranto muda sangat akrab dengan wesel pos. Dia menikmati layanan itu sejak era 80-an hingga 90-an.
Kala itu dia merantau di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Bekerja di perkebunan karet, setiap bulan wajib kirim rupiah untuk keluarganya di Jawa. Karena keterbatasan pengetahuan, ia kirim wesel pos perantara toke (juragan) tempat bekerja.
“Setiap bulan sekali rata-rata kirim sekitar Rp 300 ribu-Rp 400 ribu,” kata Ranto Wiyatno kepada Radar Jogja Jumat (25/2). Uang tersebut rencanannya untuk mencukupi kebutuhan belanja dapur dan biaya sekolah empat orang anaknya.
Kata Ranto, sebagai kepala keluarga memiliki kewajiban kirim nafkah ke kampung. Layanan wesel pos menjadi satu-satunya cara kirim uang tercepat kala itu. “Saya dulu hanya nitip uang tokene (toke). Alamat penerima saudara yang bekerja di kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Wonosari,” ujarnya.
Zaman dulu, untuk bisa sampai ke alamat penerima uang wesel pos membutuhkan waktu hingga berhari-hari. Kiriman wesel pos tepat waktu diterima setiap hari Jumat. Pegawai Kejari Wonosari bernama Ngatimin saat pulang kantor mampir ke rumah Sumilah, tak lain adalah istri Ranto.
Nah, Mbok Sumi juga memiliki kenangam indah tentang wesel pos, terutama uangnya. Nenek yang kini memiliki delapan cucu ini buka suara perihal indahnya pada hari Jumat. Karena zaman dulu alat komunikasi jarak jauh sangat terbatas yakni surat menyurat, informasi mengenai adanya kiriman uang dapat digambarkan dengan pribahasa 'mendapat durian runtuh'.
“Tapi jangan salah, sebenarnya ada pertanda alam jika akan ada kiriman wesel dari bapak (Ranto Wiyatno, Red). Suara burung prenjak,” kata Sumilah tertawa.
Biasanya beberapa jam sebelum wesel pos datang, kicauan burung prenjak nyaring terdengar dari atas pohon melinjo depan rumahnya. Hati langsung berdebar, karena kemungkinan besar tidak lama lagi akan ada 'kabar baik' dari Sumatera Selatan.
“Saya langsung perintahkan anak-anak jangan pergi jauh dari rumah alias menunggu wesel tiba,” ucapnya, langsung terkekek.
Benar saja, Sumilah masih ingat terdengar suara sepeda motor dari kejauhan mengarah ke rumah. Diintip dari jendela, nampak seorang pria berpakian necis memarkirkan kendaraan. Dia adalah Ngatimin, pegawai kejaksaan yang datang membawa kabar gembira. Tanpa basa basi, langsung menyerahkan bukti adanya pengiriman uang melaui wesel pos.
“Alhamdulillah. Suara kicau burung prenjak memang selau tepat. Sehari dua hari sebelum wesel pos datang, pasti ramai berkicau,” ungkapnya dengan nada semringah. (gun/laz) Editor : Editor Content