Seorang perajin tempe Murni Warungbroto, Umbulharjo, Mukhamad Ridloi mengatakan mayoritas perajin tempe di Jogja tak menggelar mogok kerja. Ini karena belum memiliki organisasi koperasi untuk menyampaikan aspirasi kepada pemangku kepentingan. "Percuma mau ikut mogok, aspirasi tidak tersampaikan. Karena kami nggak ada Kopti (Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia)," katanya dihubungi Selasa (22/2).
Praktis meski mahalnya kedelai impor, laki-laki 42 tahun itu tetap melakukan produksi tempe. Perajin yang juga menjualkan produk tempenya di Pasar Beringharjo itu memilih mengikuti dulu situasi saat ini. Tetapi, untuk menyiasatinya dengan memperkecil ukuran daripada tempe tersebut agar tidak rugi. Upaya ini dilakukan seiring harga kedelai yang naik drastis menjadi Rp11 ribu per kilogram sejak Januari lalu. "Saya caranya ngurangin isinya (tempe), tapi harga masih tetap atau tidak naik," ujarnya.
Satu lonjor tempe yang dijual bervariasi ada empat ukuran dengan harga mulai dari Rp 3 ribu, Rp 5 ribu, Rp6 ribu, dan Rp 8 ribu. "Bentuknya sama, tapi isinya kita kurangi. Sebelumnya kalau yang Rp 5 ribu itu setengah kilo (isinya), sekarang hanya empat ons (400 gram). Kalau nggak gitu, kami nggak untung," jelasnya.
Meski menyiasati dengan mengurangi isi tempe, namun jumlah yang diproduksi setiap hari masih tetap sama yaitu sekitar 150 ribu kilogram tempe untuk dipasarkan di Pasar Beringharjo dan Giwangan. Hanya pihaknya harus menambah modal karena harga kedelai yang mahal. Dari informasi yang beredar, Ridloi memprediksi harga kedelai ini masih akan merangkak naik mencapai Rp15 ribu per kilogram pada bulan Mei mendatang. "Ya kami tidak mengurangi jumlah produksi, sehari bisa jual lebih dari seratus tempe. Misal nggak laku bikinnya sedikit-sedikit saja yang penting habis," terangnya.
Dalam kondisi minyak goreng langka seperti saat ini juga berpengaruh pada penjualan tempe karena biasanya yang membeli dalam jumlah banyak adalah pedagang gorengan. "Tapi banyak pedagang yang libur karena minyak goreng langka. Penjualan tempe menjadi berkurang,” tambahnya.
Fenomena mahalnya harga kedelai sejatinya sudah pernah terjadi. Namun, tahun ini yang paling tinggi dari Rp 9 ribu mencapai Rp 11 ribu per kilogram. Dulu, dari Rp 7 ribu menjadi Rp 9 ribu. "Tapi ketersediaan tempe di Jogja masih tetap aman saja, nggak terjadi kelangkaan," imbuhnya.
Terpisah Kepala Dinas Perdagangan Kota Jogja, Yunianto Dwi Sutono mengatakan mahalnya kedelai karena impor dari China yang dibatasi karena untuk memenuhi kebutuhan peternakan di sana. Namun, sejauh ini tidak ada kelangkaan produk tahu dan tempe di pasar tradisional di kota Jogja. "Tidak ada kelangkaan. Tetapi banyak produk yang ukurannya dikecilkan. Dimungkinkan untuk memastikan agar harga produk tetap (tidak naik),” katanya. (wia/pra) Editor : Editor Content