Seorang perajin tahu warga Wonosari Satiyo mengatakan, bahan kedelai biasanya disediakan tengkulak berasal dari Semarang, Purwodadi, dan Solo serta impor. Kedelai impor menjadi idola, karena kualitas dinilai jauh lebih bagus. "Ketersediaan kedelai lokal minim. Kedelai dari petani lokal mencukupi bahan baku produksi," kata Satiyo saat dihubungi Senin (21/3).
Tapi sekarang kondisinya sama saja. Harga kedelai impor juga mahal sehingga membuat perajin kembang kempis. Dia berharap kepada pemerintah agar segera memberikan jalan keluar agar potensi kerugian tidak berkepanjangan.
Sementara itu, pemilik usaha Tempe Kang Bonny di Kalurahan Hargomulyo, Gedangsari Agung Kristianto mengatakan, jika harga kedelai tidak terkendali risiko kerugian semakin besar. Kondisi sekarang, pihaknya mengaku bisa bertahan hingga dua bulan ke depan. "Setelahnya tidak tahu harus bagaimana," kata Agung.
Usaha tempe sekarang nyaris tidak ada keuntungan. Harga tempe per papan dijual Rp 12 ribu, sedangkan harga kedelai impor kisaran Rp 11 ribu per kilogram. Supaya bisa terus jalan, ukuran tempe dikurangi. "Harga tetap tapi ukuran dikurangi," ujarnya.
Terpisah, Kepala Seksi Distribusi, Bidang Perdagangan, Dinas Perdagangan Kabupaten Gunungkidul Sigit Haryanto mengakui lonjakan harga kedelai impor sempat membuat perajin mogok produksi. "Saat itu yang tetap berproduksi hanya sekitar satu-dua prajin tahu saja," kata Sigit Haryanto.
Dia menyarankan agar pengusaha tahu-tempe melakukan pembelian kedelai impor secara kolektif. Akan lebih murah dengan skema kolektif ketimbang beli sendiri. Saat ini, kedelai impor berada di kisaran harga Rp 11 ribu lebih per kilogram. "Jika dengan sistem kolektif maka harga kedelai akan jadi lebih murah di kisaran Rp 10.900,00 per kilogram," ujarnya.
Rencana awal pembelian disarankan lewat koperasi. Namun karena ada kendala distribusi pasokan diarahkan langsung dari importir yang ada di Semarang, Jawa Tengah. Selain harga belinya jadi lebih murah, ongkos kirim bisa ditekan karena dibeli secara bersama. "Perajin terpaksa mengurangi ukuran tahu-tempe agar bisa mendapat keuntungan," ujarnya.
Hal yang sama terjadi di Kulonprogo. Salah satu produsen tahu di Kalurahan Tuksono, Kapanewon Sentolo, Samsuri mengatakan bahwa saat ini untuk harga bahan baku tahu atau kedelai impor sudah menyentuh Rp 11.200 per kilogram. Harga tersebut meningkat signifikan dari sebelumnya sebesar Rp 7.000 per kilogram. Peningkatan harga itu diketahui sudah terjadi secara bertahap sejak pertengahan 2020 lalu atau mulai masuknya pandemi Covid-19.
Dengan terus naiknya harga kedelai impor itu, Samsuri mengaku tidak bisa berbuat banyak. Ia pun hanya bisa mengurangi ukuran tahu daripada menaikkan harga. Yakni dari ukuran normal tahu sebesar lima sentimeter kini dikepras menjadi 3,5 sentimeter. Dipilihnya siasat tersebut lantaran ia khawatir ketika harga dinaikkan permintaan konsumen justru berkurang. “Sebab apabila harga dinaikkan maka nanti akan terjadi persaingan harga dan mempengaruhi penjualan,” ujar Samsuri pekan lalu.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kulonprogo, Sudarna mengatakan dari hasil pantauannya memang sampai saat ini produsen tahu di Kulonprogo masih mengandalkan bahan baku kedelai impor. Sehingga, ketika terjadi kenaikan harga salah satu komoditas tersebut maka akan berdampak pula terhadap harga tahu maupun tempe di pasaran.
Terkait dengan penyebab kenaikan harga kedelai impor, Sudarna menyebut ada kemungkinan masalah distribusi dari negara asal pengimpor kedelai. Kondisi tersebut membuat pengiriman kedelai ke Kulonprogo terlambat yang kemudian mempengaruhi ketersediaan di pasaran.
(gun/inu/pra) Editor : Editor Content