Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lebih Awet jika Tak Sering Kena Air

Editor Content • Minggu, 30 Januari 2022 | 15:12 WIB
INI LHO: Seorang warga Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk Sumilah menggunakan keren untuk merebus kacang tanah (28/1).(GUNAWAN/RADAR JOGJA)
INI LHO: Seorang warga Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk Sumilah menggunakan keren untuk merebus kacang tanah (28/1).(GUNAWAN/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Keren atau tungku tanah liat masih eksis sampai sekarang, terutama digunakan oleh warga di pedesaan. Keren adalah alat yang dirancang sebagai tempat pembakaran, sehingga bahan bakar dapat digunakan untuk memasak makanan, atau memanaskan sesuatu.

Keren bentuknya sederhana. Didesain sedemikian rupa agar panas yang dihasilkan dari bara api kayu bakar tidak terlalu membahayakan pengguna. Tutorial cara memakai keren disampaikan oleh seorang warga Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk, Sumilah. Sejak gadis sampai usianya sekarang, nenek berusia 76 ini masih menggunakan keren ketika memasak.

“Berbeda dengan tungku gas elpiji, keren biasanya digunakan sebagai tempat pembakaran untuk memasak makanan berat. Godog kacang atau merebus daging misalnya,” kata Sumilah kepada Radar Jogja (28/1).

Agar keren awet dan tahan lama, asalkan prosedur penggunaan dan perawatannya terpenuhi. Seperti diketahui bahan dasar keren lazimnya berasal dari tanah liat. Bentuk fisiknya lingkaran bulat dengan lubang bagian atas dan depan. Lubang atas sebagai tempat pembakaran, sementara lubang di depan fungsinya untuk menaruh bahan bakar kayu. Namun tidak jarang ada lubang kecil kanan kiri sebagai lubang angin. “Agar keren awet dan tahan lama, jangan sering kena air karena bisa pecah dan rontok,” ujarnya.

Penggunaan keren yang baik dan benar, kata Sumilah, pertama tempatkan di tanah rata jika permukaan lantai masih berupa tanah. Kemudian siapkan bahan bakar kayu secukupnya. Jika kayu bakar terlalu banyak masuk ke lubang perapian, justru memicu gesekan dengan permukaan keren dan memicu keretakan. Pastikan tempat pembakaran jangan sampai over capacity atau melebihi kapasitas. “Agar kuat menahan beban,” ucapnya.

Ibu empat anak itu juga mengingatkan prosedur mematikan bara api pada keren. Biasanya selesai memasak masih ada kobaran api di dalam keren. Mematikannya jangan disiram dengan air. Diamkan beberapa saat, jangan sampai ditinggal pergi jauh karena banyak kasus kebakaran dipicu dari pengguna lupa mematikan api dalam keren. “Biarkan sampai menjadi abu nanti mati sendiri. Jangan disiram dengan air,” ungkapnya.

Photo
Photo
GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

Terakhir, kalau keren sudah tidak digunakan lagi biasakan untuk tidak menaruh beban di atasnya dan biarkan kosong. Berdasarkan pengalaman, cara pakai dan perawatan yang benar mampu menambah panjang usia keren. Tetap dapat digunakan dengan waktu lama, sehingga tidak perlu repot-repot pergi ke pasar mengganti dengan baru.

“Seperti merebus kacang tanah ini, butuh waktu lama sampai mateng (masak). Sangat tepat menggunakan keren. Kalau direbus pakai kompor, jadi boros bahan bakar,” terangnya.

Sementara itu, penggunaan keren oleh sebagian masyarakat, terutama penjual makanan, juga karena ingin mempertahankan cita rasa masakan. Nunik Sabaryati, penjual nasi uduk dan lontong sayur di Alun-Alun Wates, Kulonprogo, termasuk salah satunya.

Wanita 50 tahun itu mengungkapkan, penggunaan kompor tanah liat memang terbilang kurang praktis dan merepotkan jika dibandingkan kompor gas. Pemakaiannya pun lebih sulit karena harus menggunakan korek api untuk menyalakan kayu sebagai bahan bakarnya. Cara itu kalah praktis dengan kompor modern yang tinggal memutar knob lalu api menyala.

Namun di samping kerepotan itu, Nunik mengaku sampai saat ini masih tetap menggunakan keren sebagai salah satu alat masaknya. Alasannya, untuk mempertahankan kualitas rasa serta tekstur nasi uduk dan lontong sayur jualannya.

Dikatakan Nunik, hasil masakan yang dipanaskan dengan keren diakui memiliki tekstur yang berbeda. Untuk nasi uduk saja, jika nasinya dimasak dengan keren maka hasilnya akan lebih pulen serta rasa gurihnya sangat meresap. Sementara untuk lontong, teksturnya akan lebih padat jika dibandingkan ketika memasak dengan kompor gas.

“Saya akui antara kompor gas dengan keren, masakan yang dimasak dengan keren jauh lebih enak dan bumbunya lebih terasa,” ujar Nunik kepada Radar Jogja, Jumat (28/1).

Menurut warga Wates itu, lebih enaknya masakan ketika dimasak dengan keren lantaran proses masaknya yang lebih lama. Dibandingkan dengan kompor gas, masakan yang dimasak pada kompor kayu justru lebih lama matang. Namun karena itu, bumbu masakan justru lebih meresap ke bahan-bahan masakan.

Nunik yang sudah berjualan sejak 2014 itu menambahkan, untuk jumlah pengeluaran pada kompor keren juga lebih terjangkau. Namun kalau dari segi kepraktisan, keren jelas kalah telak dengan kompor modern berbahan bakar gas atau listrik.

“Memang kalau mau menggunakan keren, ya harus berani repot. Tapi itu sepadan dengan cita rasa yang dihasilkan,” ungkap Nunik. (gun/inu/laz) Editor : Editor Content
#Jogja