Susahnya mencari oksigen ini dikeluhkan Ramadan, 36, warga Tempel, Sleman, kemarin (11/7). Dia sudah keliling mencari sentral oksigen di Jogjakarta. Seperti di Jalan Magelang, Denggung, Sleman, dan di Klitren, Jogja. Namun hasilnya nihil. Stok oksigen habis.
“Ya baru dapat di sini. Tapi ditolak karena tabungnya kegedean,” ungkap Ramadan kepada Radar Jogja saat di lokasi kemarin (11/7). Dia baru mendapatkan oksigen di Jalan Jati Mataram, Sinduadi, Mlati, Sleman. Yang akhirnya juga ditolak, karena tabung oksigen yang dia bawa melebihi batas maksimal pembelian.
Tabung yang dia bawa tingginya dua meter. Sedangkan batas maksimal hanya satu meter saja. Karena oksigen menjadi hal urgent, meminimalisasi fatalitas. Karena mencari rumah sakit tidak mudah, di sisi lain juga penuh. Dia berupaya membeli tabung oksigen yang lebih kecil, agar dapat menjangkau pengisian oksigen itu. Sehingga jika terjadi darurat, dapat diatasi lebih dini. Terlebih keluarganya yang saat ini menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah.
Melihat kondisi seperti ini, jangankan oksigen, tabungnya pun sulit dicari. Andaikan ada, dibanderol mahal. Informasi yang dia terima, harga tabung oksigen paling kecil sekitar Rp 800 ribu. Namun berdasarkan pengakuan pembeli oksigen lainnya pada saat di lokasi, harga tabung oksigen bisa mencapai Rp 2,5 juta ukuran satu meter. “Ya, gimana lagi. Karena ini juga titipan, mau nggak mau harus nyari tabung yang lebih kecil,” ucapnya.
Keluhan senada juga dirasakan Yuli Antara, 53, sepekan lalu. Melonjaknya kasus positif Covid-19 di DIJ menyebabkan dia kewalahan mencari stok oksigen, bersamaan sulitnya mencari RS rujukan untuk penanganan Covid-19. Bahkan dia sudah berkeliling Klaten dan Jogja. Tetapi tak kunjung dapat.
“Alhamdulilah dua kali dalam sepekan ini, begitu dapat info ada oksigen kita langsung cari,” ungkap Yuli, warga Trihanggo, Gamping, Sleman, itu.
Untuk ukuran satu liter oksigen dibanderol Rp 30 ribu. Dikatakan, persediaan oksigen ini untuk berjaga-jaga, sewaktu persediaan oksigen di RS menipis. “Sekarang kan gitu, diimbau punya stok oksigen untuk berjaga-jaga. Buat selingan oksigen, untuk adik saya yang dirawat RSU Klaten (Dr Soeradji Tirtonegoro, Red),” tandasnya.
Dia berharap pemerintah memikirkan serius kelangkaan oksigen ini. “Mau tidak mau harus tersedia. Telat sedikit, nyawa taruhannya,” tandas Yuli. (mel/laz) Editor : Editor Content