“Saya akan melapor ke polisi. Saya juga sudah lapor ke dinas pendidikan (Disdikpora) DIJ, karena kewenangan ada di DIJ. Beliau (Kepala Disdikpora) minta (laporan) tertulis dan sudah saya buat,” kata Endah Subketi Kuntaringingsih dalam keterangan pers Rabu (19/5).
Untuk diketahui, sexting adalah istilah yang biasa dipakai untuk kegiatan mengirim, menerima, atau meneruskan pesan seksual yang dikirim melalui internet, ponsel, atau alat elektronik lainnya. Nah, dalam kasus yang diungkapkan Endah, kejadian tersebut dalami beberapa waktu lalu. Sebagai wali murid anaknya yang sekolah di SMA N 2 Wonosari, saat itu Endah menghubungi wali kelas berinisial T melalui WhatsApp (WA).
Endah mengawali komunikasi dengan konteks kondisi pembelajaran secara daring. Khususnya perihal tugas bagi anaknya yang menjadi salah satu murid dari T. Politisi PDI Perjuangan itu mengaku, awalnya bertanya baik-baik soal tugas milik anaknya. Termasuk kondisi umum mengenai pembelajaran secara daring. Tapi jawaban yang diberikan sang guru tidak nyambung. “Oleh wali kelas dijawab dengan jawaban tak pantas yang terkesan ‘genit’ sehingga sebagai kaum perempuan saya tersinggung dengan isi chat itu,” tegasnya.
Di antara pesan diduga sexting itu, wali kelas tiba-tiba menyarankan melihat photo profile WA. Padahal, Endah tidak menanyakan terkait foto. Wali kelas juga meminta foto Endah dengan tujuan tak jelas. Saat Endah bertanya mengenai maksud dan tujuan permintaan foto itu, si wali kelas memberi jawaban yang membuat prihatin. Melalui chat WA, wali kelas mengaku agar dapat membayangkan wajah ibu.
Selain itu adapula chat sang guru yang mengajak Endang datang ke rumahnya di kawasan Prambanan. Sebagai wali murid, Endah sempat kembali menegaskan bahwa ada yang salah dengan WA si wali kelas. Endah kemudian segera membalas pesan, ‘maaf pak wali kelas, jangan-jangan bapak salah minum obat?’. Namun, dengan enteng si wali kelas menjawab, ‘mboten’ (tidak)”.
Dalam percakapan itu wali kelas juga mengirimkan GPS alamat rumah. “Mengingat banyak sekali pelecehan seksual di sekolah. Kejadian seperti ini berisiko berujung petaka. Maka kami mengimbau kepada semua wali murid untuk tetap waspada,” tegas Ketua DPC PDIP itu.
Sementara itu ketika dikonfirmasi, Kepala Sekolah SMA N 2 Wonosari Sumardi mengaku telah memanggil wali kelas inisial T untuk dimintai keterangan. Oknum guru tersebut mengakui perbuatannya dengan dalih ingin akrab dengan siapapun."Namun mengirim pesan dengan nada seperti itu tidak etis. Yang bersangkutan kini dalam pembinaan," kata Sumardi.
Dalam waktu dekat pihak sekolah juga mengagendakan pertemuan dengan Endah Subekti Kuntariningsih. Menurut dia, secara internal dan secara personal oknum guru yang bersangkutan akan meminta maaf secara langsung. "Menunggu waktu luang ibu Endah," ucapnya dan mengatakan ini merupakan kasus pertama inisial T yang terungkap. (gun/pra) Editor : Editor Content