Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kenali Ciri Ular Berbisa dan Perilakunya

Editor Content • Rabu, 19 Mei 2021 | 16:13 WIB
HARUS TEPAT: Dokter Spesialis Toksikologi dr Tri Maharani Msi, Sp.Em (kanan) sedang mempraktikkan tutorial penanganan awal ketika digigit ular berbisa.(Tri Maharani for Radar Jogja)
HARUS TEPAT: Dokter Spesialis Toksikologi dr Tri Maharani Msi, Sp.Em (kanan) sedang mempraktikkan tutorial penanganan awal ketika digigit ular berbisa.(Tri Maharani for Radar Jogja)
RADAR JOGJA - Kasus tewasnya warga akibat digigit ular berbisa di Kapanewon Playen, hendaknya bisa meningkatkan kewaspadan masyarakat. Mengenali ciri dan perilaku hewan melata itu diperlukan sebagai langkah antisipasi.

Toksikologi dr Tri Maharani MSi.Sp.Em mengatakan, ular bisa muncul kapan saja karena tidak mengenal musim. Tapi ada contoh kasus, musim hujan banyak ular menetas di mana telur itu sudah diletakkan tiga atau empat bulan sebelumnya.

“Asalkan ada makanannya seperti tikus, katak dan unggas, sewaktu-waktu ular bisa muncul. Bahkan ada ular makan ular karena ada yang kanibal seperti king cobra,” kata Tri Maharani saat dihubungi Selasa(18/5).

Lalu, bagaimana mengantisipasi ular agar tidak masuk ke pemukiman atau di dalam rumah? Masyarakat diimbau membersihkan rumah dari sampah makanan yang sering dimakan tikus. Juga menyingkirkan genangan air yang menjadi sarang katak. “Selain itu tidak memelihara unggas dalam rumah,” ungkapnya.

Menurutnya, secara kontinu membersihkan rumah dan pekarangan dari rumput dan dahan-dahan pohon yang bisa menjadi sarana ular masuk rumah, sangat diperlukan. Termasuk menutup lubang-lubang yang berpotensi menjadi jalan masuk ular. Misalnya di bawah pintu atau jendela.

“Karena ular tidak takut garam, beletang ijuk atau bahan-bahan kimia yang berbau kayak kapur barus obat pembersih lantai atau pemutih baju. Tapi ular hanya tidak mau datang kalau tidak ada makanannya,” bebernya.

Ditanya bagaimana cara mengenai ular berbisa, dikatakan sulit membedakan dengan melihat morfologi karena jumlah yang sangat banyak, 370-an species ular dan lebih hampir 500-an beserta variasi speciesnya. Sangat tidak mungkin membedakan dari morfologi atau melihat ular.

“Jadi saran saya, kalau ada ular kita bisa singkirkan saja ke tempat aman dan meminta bantuan petugas damkar (pemadam kebakaran, Red),” ujar Tri Maharani.

Jika terlanjur terkena gigitan, lanjutnya, penanganan awal adalah dengan mengikat bagian atas anggota tubuh yang terkena gigitan dengan media seperti kayu atau bambu. Kemudian menggunakan kain atau tali yang kuat untuk membuat ikatan.

Tujuannya untuk meminimalisasi gerakan dari pasien. Lalu dalam penanganan medis bekas gigitan ditandai dengan plaster. Ini untuk mengetahui ada tidaknya pergerakan pembengkakan. Setiap dua jam sekali dipantau perubahannya dengan alat ukur penggaris.

“Menurut saya, ini bukan fenomena tapi memang ular waktunya bertelur dan beranak,” kata satu-satunya spesialis toksikologi yang ahli soal gigitan ular di Indonesia ini.

Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Gunungkidul Agus Wibowo mengatakan, selama ini minim laporan adanya serangan ular. Biasanya warga baru melapor jika membutuhkan bantuan untuk membasmi ular. “Jika ada laporan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Damkar turun ke lapangan,” katanya. (gun/laz) Editor : Editor Content
#Gunungkidul