Putri tertua HB X Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi mengaku sangat kehilangan. Baginya, almarhum Gusti Hadi sudah ibarat orangtuanya sendiri. Kesan tak terlupakan saat pernikahannya dengan KPH Wironegoro.
"Kami mengucapkan bela sungkawa atau ikut sedih sedalam-dalamnya atas kepergian romo (Gusti Hadi). Kemudian tentunya kalau bicara kesan tentunya banyak sekali karena pada waktu kami mau menikah ya romo-lah yang mengawal sejak awal sampai akhir," jelasnya ditemui di rumah duka, Kamis (1/4).
Sebagai Penghageng Tepas Panitikismo, Gusti Hadi memiliki peran penting di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Salah satunya adalah mendata semua aset keraton. Bahkan jabatan ini telah diemban sejak Sri Sultan Hamengku Buwono IX masih bertahta.
Terkait kekosongan jabatan, GKR Mangkubumi masih enggan berkomentar. Internal keraton, lanjutnya, tak ingin terburu-buru. Terlebih saat ini Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat masih dalam suasana berduka.
"Ya belum lah belum dipikirkan (pengisi jabatan), belum sempet mikir itu. Yang penting sekarang kita menghantarkan beliau sebaik-baiknya sampai dimakamkan," katanya.
Anak Pertama KGPH Hadiwinoto, RM Bambang Prastari tak mengetahui ayahnya menderita sakit jantung. Kesehariannya di rumah maupun tempat kerja terlihat normal. Tak ada keluhan nyeri dada maupun sesak nafas.
Vonis sakit jantung oleh dokter cukup membuat keluarga terkejut. Gusti Hadi, lanjutnya, sama sekali tak pernah sambat tentang kondisi kesehatannya. Tetap beraktivitas seperti biasa dan tanpa pantangan.
"Apapun yang beliau rasakan tidak pernah ngendiko sama sekali. Termasuk bapak sesek kita tidak ada yang tahu. Dan akhirnya Kanjeng Gusti vonis serangan jantung itu saya kaget," ujarnya.
Baginya Gusti Hadi adalah sosok yang kuat. Tak pernah mengeluh dalam menjalani seluruh aktivitas. Termasuk tentang kondisi kesehatannya. Walau faktanya, sosok Gusti Hadi sendiri telah tergolong lanjut usia.
"Jadi ya kalau di mata saya, beliau itu orang yang paling kuat yang saya tahu. Karena tidak pernah ngomong sama sekali, saya sakit, saya sesek, saya capek, engga pernah ngomong sama sekali. Anaknya aja engga tau sama sekali. Apalagi orang lain kan gitu," katanya.
Etos kerja Gusti Hadi sangatlah tinggi. Terbukti saat dirawat di ICCU RSUP dr Sardjito ingin cepat sembuh. Kalimat pertama yang terucap ingin menghadiri rapat. Bambang sempat mengingatkan agar lebih baik sembuh dahulu.
Kepedulian terhadap staf pekerjanya juga tinggi. Terbukti dari beberapa unit usaha miliknya. Walau tak menunjukkan keuntungan signifikan namun tetap bertahan. Alasannya agar roda ekonomi pekerja tetap berputar.
"Intinya bangun usaha harus bener. Gusti itu apa ya, misalnya punya satu usaha tidak sehat, orang lain pada umumnya pasti akan sudah close yakan. Gusti engga, mesakke sing wes kerjo neng kono. Gitu-gitu lah," ujarnya.(dwi/sky) Editor : Editor News