Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pembuatan Game Konsol Jadul Lebih Simpel

Editor Content • Minggu, 7 Februari 2021 - 17:41 WIB
Photo
Photo
 

RADAR JOGJA - Proses pembuatan game konsol jadul, salah satu yang dikenal Gamebot, ternyata lebih sederhana, tidak serumit dengan game saat ini yang berbasis mobile. Ini karena era tahun 80-90 an silam, teknologi belum seberkembang sekarang.

Salah seorang pembuat game Aji Prasetyo mengatakan, teknis membuat Gamebot berbeda jauh dengan pembuatan game berbasis model yang sudah berteknologi maju, misalnya game 2D atau 3D. “Kalau Gamebot zaman dulu lebih simpel, karena grafisnya kan masih kotak-kotak. Dan peralatan zaman dulu juga belum secanggih sekarang, jadi ya beda total,” katanya saat dihubungi Radar Jogja (5/2).

Aji menjelaskan, tak bisa dipungkiri grafik game jadul dan zaman sekarang memiliki berbagai perbedaan, seiring berkembangnya teknologi. Kini pemain game bisa menikmati visual yang nyaris seperti film sungguhan. Terlebih dengan hadirnya teknologi 3D, tampak seperti satu benda sungguhan. “Kalau game zaman dulu saja belum ada yang model township karena teknologinya belum ada,” ujar pria yang pernah satu tahun tinggal di Amerika Serikat untuk memperdalam soal pembuatan game ini.

Dicontohkan, game yang dimainkan pada Gamebot kebanyakan jenisnya casual. Seperti kategori bergenre game balapan, game Tetris, dan lain-lain. “Orang nge-game dulu juga cuman buat sambil lalu aja . Jadi kebanyakan pilihan game-nya yang casual-casual gitu,” jelas laki-laki 35 tahun ini.

Namun demikian, seiring teknologi makin berkembang dengan sangat cepat, muncul perkembangan game yang juga sudah sangat pesat di Indonesia. Dari grafik pixel dengan gameplay yang sederhana di zaman dulu, hingga grafik photorealistic dan gameplay yang lebih kompleks, menjadi salah satu pertanda akan perkembangannya. “Seperti Gamebot itu ada game yang versi androidnya model sekarang, kayak Tetris dan macam-macam,” terangnya.

Bagaimana teknis pembuatan game? Diakui sangat rumit karena harus melalui tiga proses development, mulai game desainer, programmer, animator atau 2D/3D artist, dan sebelum terpublikasi harus melewati quality assurance (QA) atau pintu terakhir sebelum game dipasarkan. “Misal game-nya jelek, ada bug ada kesalahan-kesalahan jadi tanggung jawab QA. Nah, kalau game zaman dulu mungkin proses desainnya tidak seperti sekarang lebih simpel,” jabarnya.

Demikian pula tantangan dalam industri dunia game era saat ini, adalah ketika game yang dibuat tidak ada peminat, terbukti dengan tidak adanya orang yang mengunduh game di aplikasi google playstore. Ini dibutuhkan tim marketing yang kuat untuk dapat bersaing dengan game-game yang lain.

“Bikin game itu duitnya nggak berhenti waktu pembuatannya saja. Tapi masih ada aspek lain yang perlu dipikirkan, seperti promo untuk memperkenalkan game tersebut,” tambahnya.

Seiring munculnya banyak jenis game, kendala lain di dunia game tidak ada istilah copy right. Ini yang mengakibatkan persaingan untuk menembus di pasar game agak sulit, karena banyaknya game-game yang sejenis yang hanya berubah visual gamenya saja. Seperti jenis game flappy bird yang telah banyak muncul serupa. “Nah di dunia game itu nggak masalah karena gameplay itu nggak bisa dicopyrightkan. Kalau bisa, ya game nggak akan sebanyak sekarang,” tambahnya. (wia/laz) Editor : Editor Content
#Gamebot