Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Koesbini, sang Komponis Tiga Zaman

Editor Content • Minggu, 13 Desember 2020 | 14:42 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Siapa tak kenal Koesbini? Dia adalah tokoh musik tiga zaman: Hindia Belanda, Kedudukan Jepang, dan zaman Indonesia Merdeka.
Koesbini yang telah dijadikan nama jalan di Jogja ini lahir di Desa Kemlagi, Mojokerto, Jawa Timur, tahun 1910. Pada 1930, dia dikenal sebagai musisi keroncong. Namanya semakin melegenda ketika ia menciptakan lagu perjuangan “Bagimu Negeri” pada 1942.

Pada 1960 oleh Presiden Soekarno lagu tersebut ditetapkan sebagai lagu nasional dan dikenal hingga sekarang. Koesbini yang meninggal tahun 1991 itu dinilai memiliki interval unik. Itulah ciri khas musisi ini dalam bermusik.

“Ciri khasnya dalam karya lagu-lagu keroncong, penulisan interval melodi yang tidak mudah. Karyanya bisa dikatakan sangat beragam. Selain lagu-lagu nasional seperti Bagimu Negeri, juga ada lagu keroncong,” ujar dosen seni musik Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta Mulyadi Cahyoraharjo kepada Radar Jogja Kamis (11/12).

Photo
Photo
Imoeng Mulyadi Cr.(ISTIMEWA)

Dikatakan pria yang akrab disapa Imoeng Mulyadi Cr ini, pada era “Keroncong Abadi” (1920-1960), Koesbini merupakan tokoh komponis Indonesia. Koesbini paling produktif sekitar tahun 1937-1942, karena aktif dalam bermusik sekaligus aktif dalam berkarya.

Imoeng mengungkap, Koesbini mulai menciptakan lagu keroncong serta menulis transkrip lagu keroncong “Telomoyo”, “Moresko”, dan “Nina Bobo” sejak masa Hindia Belanda. Bahkan musisi kelahiran Desa Kemlagi, Mojokerto, Jawa Timur itu sebagai idolanya.

“Beliau termasuk tokoh idola saya. Karya keroncong beliau yang saya suka Pastorale, dan Darma Bhakti. Meskipun masih banyak lagu beliau yang bagus dan saya suka,” ujar pria kelahiran Solo ini.

Bukan asal Imoeng menjadikan Koesbini sebagai idola. Menurutnya, Koesbini mampu menulis lirik lagu dengan prosa kaya yang bagus. Lirik lagu itu berbobot, namun tetap dapat diterjemahkan atau dimengerti banyak orang. “Pesan yang ingin disampaikan cukup jelas,” katanya.

Tidak heran lagu ciptaan Koesbini pun melegenda. “Bagimu Negeri sering diputar untuk backsound di televisi. Selain itu sering dibawakan saat upacara di sekolah. Sama Darma Bhakti pun sering dipakai sebagai lagu wajib. Dalam lomba vokal keroncong tingkat nasional, baik Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) maupun Bintang Radio dan Televisi (BRTV) tingkat Nasional,” ujarnya.

Karya Koesbini adalah warisan yang sangat berarti. Bukan hanya karya musiknya, tapi juga hasil penelitiannya yang kerap dijadikan rujukan dalam penelitian ilmiah. Seperti pengupasan sejarah melalui musik, serta seluk beluk dan perkembangan keroncong. “Bukunya juga sering dipakai sebagai referensi untuk tugas akhir dan tesis mahasiswa,” ungkapnya. (fat/laz) Editor : Editor Content
#oldies #Komponis Tiga Zaman #Koesbini