Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ngamen Jadi Ledhek untuk Galang Dana

Editor Content • Minggu, 6 Desember 2020 | 16:32 WIB
Didik Nini Thowok.(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)
Didik Nini Thowok.(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Maestro tari Didik Nini Thowok pernah menjalani proses kreasi sebagai ledhek. Tapi, pria yang akrab disapa Eyang Didik ini menyebut proses itu sebagai ngamen. Itu dilakoni oleh pria kelahiran Temanggung 13 November 1954 dengan nama asli Kwee Tjoen Lian atau Didik Hadiprayitno pada 1994. Sebuah perayaan, tepat ketika usianya 40 tahun.

Ide untuk ngamen, diungkap Didik dari seorang kameramen televisi swasta. “Saya punya kenalan, namanya Pak Bambang, kameramen tv swasta di Jogja. Dia melontarkan ide ke saya. Coba besok saat ulang tahun Mas Didik dandan. Jalan dari Stasiun Tugu ke Titik Nol,” kenang Eyang, mengawali cerita saat ditemui di Sanggar Tari Natya Lakshita, Rabu malam (2/12).

Eyang pun menyambut ide untuk ngamen. Namun, dia lantas memoles ide untuk ngamen dengan menuangkan kenangan masa kecilnya. Kala kerap melihat pengamen yang menari dari rumah ke rumah dalam rombongan. “Kalau di Jogja disebut ketoprak ongkek. Jadi dia ngamen lima orang. Ledheknya tiga, lainnya penabuh atau pemusik,” jelasnya, agak sesenggrutan akibat alergi perubahan suhu.

Perjalanan Eyang ke luar negeri, juga turut mewarnai kreasi. Di mana saat melihat pengamen di luar negeri, mereka tidak asal-asalan. Sebab memang ada seni dan hiburan yang ditampilkan. “Di depan pengamen itu ada topi, kalau ada yang memberi uang receh, pengamennya menari selama uang bergemericik. Itu yang saya praktikkan di Malioboro,” ujarnya bersemangat.

Penggemar jamu itu pun tampil di jalanan Malioboro dengan kostum dan riasan lengkap. Ia pun membawa tim khusus sebagai pemusik. Bahkan didampingi Gareng Rakasiwi sebagai MC. Seraya menyembunyikan senyum di balik tangan, kata Eyang, “Ngamen-nya bermodal, sehingga orang mau memberi uang sedikit agak sungkan.”

Berdasar pengalaman itu, Eyang ngamen lagi. Tapi 10 tahun kemudian. Eyang membuat parade tari dari Stasiun Tugu ke Titik 0 kilometer, tepat di usianya yang ke-50. Ini mendapat sambutan baik. Bahkan dari Gubernur DIJ

Hamengku Buwono X. Dari situ, Eyang mendapat sponsor, untuk selama dua tahun ngamen di Titik 0 kilometer tiap hari Sabtu. Terhitung sejak 2004-2006.
Kesempatan itu turut dimanfaatkan Didik untuk gelar penggalangan dana. Jadi, dia turun ke Titik 0 kilometer, tiap ada bencana. Ngamen sebagai ledhek demi menggalang dana. Tapi ada pula penggalangan dana yang dilakukan untuk membantu seniman lain saat tengah tertimpa musibah, semisal sakit.

Mantan dosen Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) yang kini menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta itu mengaku senang. Titik 0 kilometer dapat menjadi ikon penggalangan dana melalui seni. Dan masih berlangsung sampai sekarang. Kendati rindu, untuk ngamen sebagai ledhek.

Didik merasa jika masa kini adalah milik generasi muda. “Sekarang kalau aku lihat senang juga. Karena mereka bisa berekspresi dengan kreatif. Tujuan untuk regenerasi berhasil. Saya dulu nggak mikir begitu,” tuturnya terharu. (fat/laz) Editor : Editor Content
#Maestro Tari #Ledhek #didik nini thowok