Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Palung dan Fenomena RIP Current

Editor Content • Selasa, 18 Agustus 2020 - 15:31 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Morfologi pesisir Bantul disebut ahli geomorfologi pesisir dari Departemen Geografi Lingkungan, Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Langgeng Wahyu Santosa, berbentuk landai. Dengan garis pantai yang berkelok. Meski relatif lurus. Variasi itu berupa tanjung-teluk-tanjung dengan lereng landai.

Sementara tipe daratannya adalah pengendapan gelombang. Material endapan gelombang itu adalah pasir. Pasir di pesisir Bantul ini berwarna hitam dan berkilau ketika terkena cahaya. Pasir itu adalah pasir vulkanik, berasal dari Gunung Merapi.

Pasir ini terbawa oleh aliran sungai ke laut. Kemudian oleh gelombang diendapkan ke daratan. Oleh sebab itu, warna pasir di pesisir Bantul berwarna hitam. Ini merupakan ciri khas dari pasir vulkanik. Sementara kemilaunya menandakan pasir tersebut mengandung besi.

“Pasir jenis serupa juga ditemukan di pantai-pantai Kulonprogo,” sebut Langgeng ketika dihubungi Radar Jogja Senin (17/8). Tapi khusus di Pantai Parangtritis dan Parangkusumo, pasir-pasir ini menimbulkan fenomena unik. Ya, gumuk pasir. Gumuk pasir terbentuk akibat hembusan angin yang sangat kencang dan bersifat kering.

Tapi mengapa pasir itu berhenti di satu lokasi? Ternyata karena ada perbukitan di utara Pantai Parangtritis dan Parangkusumo. Perbukitan ini menghalangi angin bertiup lebih jauh. Pasir pun terjatuh di lokasi itu dan tidak dapat menyeberang. Fenomena unik ini hanya terjadi di gumuk pasir se-Asia Tenggara. Karena keunikan itu, wajar jika gumuk pasir menjadi objek wisata. “Seharusnya pohon-pohon dan bangunan yang menghalangi angin ke gumuk pasir tidak ada, agar gumuk pasir lestari,” pesannya.

Kencangnya angin di pesisir Bantul tentu memberikan manfaat. Terutama di sektor pariwisata. Namun juga dapat berdampak negatif. Karena angin dapat mendorong gelombang datang tegak lurus dengan garis pantai. Akibatnya menciptakan efek arus balik yang kuat dan bersifat turbulensi atau berputar cepat. Ini dapat memakan korban jiwa yang sering disebut dengan fenomena rest in peace (RIP) Current.

RIP Current berpotensi terjadi di sepanjang pesisir Bantul sampai Kulonprogo. Fenomena ini paling sering terjadi di Pantai Parangtritis dan Parangkusumo. Tapi, waktu dan lokasi pastinya tidak dapat diprediksi. Masyarakat pesisir biasanya niteni atau menandai terjadinya RIP Current dengan melihat ombak. Bibir pantai yang tidak terdapat ombak dan tampak tenang, padahal sisi-sisinya tampak kencang, di lokasi itu sedang terjadi RIP Current. Masyarakat pesisir lebih familiar dengan sebutan palung.

Oleh karena itu masyarakat yang tidak terbiasa di wilayah pantai akan menganggap lokasi itu aman. Padahal menjadi lokasi paling berbahaya. Sebab jika terseret, dipastikan sulit selamat. Maksimal petugas hanya dapat memberikan peringatan untuk berhati-hati saat berenang atau bermain di air laut. “Jadi pengunjung harus arif dalam mematuhi rambu dan peringatan petugas,” tegas Langgeng.

Selain angin, ancaman bahaya lainnya adalah tsunami. Karena pesisir Bantul berhadapan langsung dengan zona penunjaman lempeng Samudra Hindia di bawah lempeng Benua Eurasia. Maka ancaman bencana yang dapat terjadi adalah gempa bumi tektonik dasar laut. “Ini dapat memicu terjadinya tsunami,” sebutnya.

Sementara itu, terkait adanya mitos larangan menggunakan pakaian berwarna hijau, Abdi Dalem Keraton Jogja di Pantai Parangkusumo Mas Bekel Surakso Dinomo menyebut, hal itu adalah kearifan lokal. Sebab warga yang terseret gelombang ke laut lebih sulit teridentifikasi jika menggunakan pakaian berwarna hijau.

Kendati mengakui kunjungan di Cepuri Parangkusumo meningkat menjelang bulan Suro (penanggalan Jawa), ia menegaskan, meninggalnya seseorang adalah kehendak Illahi. Termasuk ketika mengalami laka laut. “Kalau saya, (tiap menjelang) Suro minta tumbal, kok saya nggak sepakat,” cetusnya. (cr2/laz) Editor : Editor Content
#UGM #rip current #Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada