SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja
RADAR JOGJA - Suasana petilasan Ki Ageng Mangir di Dusun Mangir, Kabupaten Bantul, tampak sepi. Tempat itu diyakini merupakan tempat kekuasan Ki Ageng Mangir dahulu.
Ki Ageng Mangir digambarkan sebagai pribadi yang kuat. Bahkan, Panembahan Senapati selaku penguasa Mataram waktu itu, harus menjadikan salah seorang putrinya sebagai ”umpan” untuk menaklukkan Mangir.
Sang putri menyamar sebagai seorang penari atau ledhek. Tariannya gemulai membuat Mangir ingin menikahinya. Tapi, saat sowan kepada Senapati, Mangir justru dibunuh. Ada kisah yang menyebutkan bahwa kepala Mangir dibenturkan pada watu gilang.
Ada yang menyebutkan Mangir dimakamkan secara anomali di Hastorengo Kotagede. Sebagian tubuhnya dimakamkan di dalam pagar. Sebagian lainnya di luar pagar.
Siang hari beberapa hari lalu, Retno Utari, salah seorang keturunan Mangir, tampak berjalan pelan. Dia merupakan pengampu petilasan Ki Ageng Mangir.
Perempuan 57 tahun itu memasuki kawasan peribadatan itu dengan ”dikawal” dua anjing peliharannya. Jenisnya Labrador. Namanya Lexus dan Bruno.
Retno merupakan putri kedua dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan. Dia mengaku lebih suka dipanggil Retno Mangir.
Retno menceritakan, petilasan yang diampunya ini telah lama terbengkalai. Ayahnya, yang akrab dipanggil Mbah Bali, membuka petilasan yang berada di Mangir Tengah, Wonoboyo, Bantul.
Dari cerita Retno, pembukaan petilasan dilakukan pada 1984. Hingga 2010, secara resmi petilasan masih berdiri. ”Kemudian Ayah membuat prasasti. Paling tidak, ada pengingatnya Eyang Mangir,” kisahnya.
Meskipun dinamakan petilasan, lokasi tersebut merupakan milik pribadi. Meski demikian, tidak ada pungutan biaya tiket untuk siapapun yang masuk ke sana.
”Anggap saja ini milik keluarga Mangir Wonoboyo. Karena, kalau kita mendapat dana (dari pihak lain), pasti (pihak lain itu) ikut cawe-cawe,” jelasnya.
Awalnya Retno berpikir apa yang dilakukan ayahnya adalah untuk urusan pribadi saja. Tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga.
Tapi, sang ayah kemudian meminta Retno untuk datang ke Mangir. Saat itu Retno tidak tinggal di Jogjakarta. ”Saya nggak kenal siapa-siapa. Nggak tahu Jogja. Saya besar di Bali, kemudian tinggal di Jakarta,” ungkapnya.
Enam bulan setelah ibunya meninggal, Retno memutuskan datang ke Mangir. Meski, dia mengaku masih ragu akan permintaan ayahnya. Tapi, ayahnya yang hanya tinggal seorang diri di Mangir, membuat Retno tidak tega. ”Bapak sendiri di sini. Kalau terjadi sesuatu sama Bapak, berarti di sini kosong. Sedangkan saya sudah diminta,” katanya.
Sejak 2011, Retno mulai bermukim di Mangir. Meskipun dia tetap kerap pergi ke luar kota. Dia belum serius mengemban tanggung jawab seperti permintaan ayahnya. ”Saat ada Bapak, saya santai-santai ke sana ke mari. Ternyata, saya cuma dikasih magang lima tahun,” ucapnya lantas tertawa.
Dengan nada berguarau, Retno menceritakan ayahnya sempat menakut-nakuti. Itu didasarkan hasil penerawangan sang ayah. Ayahnya menyatakan bahwa jika Retno menolak untuk mengurus pertilasan Ki Ageng Mangir maka akan menerima celaka. ”Saya di sini juga karena ditugasi. Apa boleh buat. Saya mau kabur cuma dua pilihannya, ICU (sakit sehingga dirawat di rumah sakit) apa 2×1 (meninggal dan dimakamkan). Ya udah, saya jalani,” ujarnya lantas kembali tertawa.
Mbah Bali meninggal pada 2016. Momentum tersebut membuat Retno mulai serius mengemban amanah sebagai empu Petilasan Ki Ageng Magir. ”Sempat bingung juga, namanya saya nggak pernah serius menanggapi tanggung jawab. Ternyata, ketiban juga,” ucapnya.
Mengaku sebagai seorang naturalis, Retno sadar tanggung jawab yang diemban bukan hanya menyangkut keluarga. Dia meyakini penunjukkannya sebagai empu berkaitan dengan kehidupan berbangsa. ”Beliau (merujuk pada sesuatu transenden) memang memberi petunjuk, kalau ini bukan sekadar iseng,” jelasnya.
Retno mengartikan, ayahnya hanya orang yang ditunjuk untuk ”mengawali sesuatu”. Itu berhubung sang ayah telah berusia 12 tahun ketika Republik Indonesia merdeka pada 1945. ”Indonesia merdeka masih menjadi tugas kewajiban saya. Ya, mungkin tidak sepenuhnya,” katanya.
Retno juga meyakini hanya ditugaskan sementara waktu sebagai empu petilasan. Nanti akan ada regenerasi. Meski, dia belum tahu siapa yang akan melanjutkan tanggung jawab tersebut.
Retno menyatakan lebih suka menyampaikan pentingnya menjaga alam. ”Tantangan kalian ke depan, bukan hanya ekonomi, manusia, tapi juga alam,” tegasnya.
Sembari menjaga petilasan, Retno berusaha menyebarkan pengetahuan tentang kebesaran Nusantara di masa lalu. Bahkan, dia mengajak untuk mengkaji tulisan Jawa kuno sebelum adanya aksara Ajisaka. ”Eyang sendiri, ada Mangir 1, 2, 3, 4. Awalnya Hindu, Siwa-Budha, kemudian sudah setelahnya pengembangan. Eyang mempraktikkan Tulasa Jawa. Jadi, ilmu yang dari leluhur itu, yang Tulasa Jawa,” tuturnya.
Petilasan Ki Ageng Mangir, menurut Retno, menjadi tempat ibadah lintas agama. Karenanya, sebagai empu, dia mendorong adanya penelitian lebih lanjut. ”Agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berujung pada perselisihan. Banyak yang belum tahu, jadi dianggapnya sesat,” harapnya. (amd) Editor : Editor Content