Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Selalu Dioprak-oprak untuk Terus Berkarya

Editor Content • Minggu, 19 Januari 2020 | 16:42 WIB
RADAR JOGJA - Tahun 1985 Irwan Sukendra mengawali sebagai mahasiswa ISI Jogjakarta. Kampusnya pun masih di Gampingan, Wirobrajan. Era ini sedikit berbeda pada aturan sebelumnya. Di mana kebijakan berpakaian rapi mulai diterapkan. Sehingga tak ada lagi mahasiswa berpakaian ala kadarnya. Tak seperti sebelumnya saat masih ASRI dan STSRI.
“Tetapi tetap saja banyak orang mengklaim rambut gondrong itu mahasiswa ASRI,” ungkap Irwan. Dulu, kampus ASRI menjadi pusatnya seniman. Berada di kawasan kota dan dekat dengan galeri Amri Yahya. Galeri itu banyak di kunjungi wisatawan. Melihat keunikan mahasiwa dan karya-karya seni ISI. Tak jarang, wisatawan mampir ke JNM. Kemudian kampus ISI menjadi edukasi seni sekaligus objek wisata seni. “Hampir setiap tahun juga banyak mahasiswa asing dari berbagai negara mendaftar di ISI,” tuturnya.
Menurutnya, mahasiswa seni dulu punya beragam keunikan. Kemudian dosen-dosennya bagaikan alarm yang setiap kali tampak santai selalu mengingatkan agar terus berkarya. Hal yang paling berkesan saat pelajaran sketsa on the spot. Didampingi dosen pembimbingnya, I Nyoman Gunarsa kala itu, dia kerap mendapatkan suntikan semangat.
“Semangat ngoprak-oprak agar tidak berhenti berkarya. Berkarya dan terus berkarya,” tuturnya. Hingga sekarang, semangat itu masih tersimpan kuat. Bahkan karya-karyanya dikenal dengan sketsa suasana yang mempertahankan lukis on the spot. (mel/laz) Editor : Editor Content
#Asri