Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pelaku Wisata Mengeluh Sepi di Awal Libur Lebaran, Okupansi Hotel dan Jip Merapi Kompak Turun

Iwan Nurwanto • Selasa, 24 Maret 2026 | 03:30 WIB

Wisatawan melintas di kawasan semi pedestrian Malioboro, Kota Jogja Selasa (17/3).
Wisatawan melintas di kawasan semi pedestrian Malioboro, Kota Jogja Selasa (17/3).

JOGJA - Keluhan terkait sepinya wisatawan yang berlibur di libur Lebaran tahun ini dirasakan pelaku usaha perhotelan di Jogjakarta.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY mengungkapkan penurunan tingkat okupansi kamar dibandingkan tahun sebelumnya.

 

 

Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan, pada periode 16 hingga 22 Maret 2026 tingkat hunian hotel di Jogjakarta hanya menyentuh rata-rata 40 sampai 65 persen. Capaian tertinggi hanya di 21 dan 22 Maret 2026 dengan okupansi 75 persen.

Catatan okupansi hotel itu mengalami penurunan dibandingkan dengan musim libur lebaran tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, tingkat hunian hotel di DIY bisa menyentuhnya rata-rata hingga 75 persen. Sehingga menurun 10 persen pada tahun ini.

 

Penyebab paling kuat, prediksinya, karena daya beli masyarakat menurun akibat kondisi ekonomi yang tidak baik-baik saja. Lalu faktor kedua karena prediksi kunjungan 8,2 juta wisatawan ke DIY.

Sehingga membuat banyak wisatawan enggan berwisata karena takut terjebak macet dan tidak mendapatkan kamar hotel saat menjalani liburan.

"Kemudian, wisatawan mungkin juga pilih-pilih akomodasi. Seperti menginap di penginapan ilegal,” ujar Deddy saat dikonfirmasi, Senin (23/3).

 

Pengusaha hotel di Kemantren Mantrijeron ini menyebut, penurunan okupansi hotel juga tidak hanya terjadi di DIY. Namun juga sejumlah daerah. Sebab daya beli masyarakat yang menurun terjadi secara nasional.

 

Deddy menyatakan, okupansi hotel di masa libur panjang lebaran tahun ini juga meleset jauh dari target yang sebelumnya ditentukan. Sebelumnya, PHRI DIY memprediksi tingkat hunian pada masa libur hari raya umat muslim itu bisa menyentuh minimal di angka 85 persen.

Namun hanya mampu di angka maksimal 65 persen. “Okupansi hotel tahun ini belum bisa lebih baik dibandingkan tahun lalu, malah cenderung menurun,” beber Deddy.

 

 

Sementara itu, salah satu pemudik asal Surabaya, Jawa Timur Evita Dewi mengaku memang tidak menginap di hotel. Dia bersama dengan keluarganya lebih memilih menginap di rumah kerabatnya yang berada di Sleman selama liburan.

 

 

Perempuan 28 tahun ini menyebut, alasannya menginap di rumah kerabat untuk menghemat biaya. Sekaligus supaya lebih dekat dengan sanak saudaranya karena ingin menjalani kegiatan trah selama di DIJ.

“Sejak sampai di Jogja Minggu (22/3) memang tidak ingin menginap di hotel, karena liburannya cuma sampai Selasa (24/3). Jadi ke Jogja ikut acara trah, ke Malioboro, lalu kembali ke Surabaya,” ungkapnya. 

 

Belum ramainya kunjungan wisatawan juga dirasakan oleh pengelola destinasi wisata jip lereng Gunung Merapi.

Ketua Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi (AJWLM) Dardiri menyampaikan, animo wisatawan di awal masa libur lebaran ini kondisinya mirip dengan libur akhir pekan atau long weekend biasa. 

Armada mobil jip yang beroperasi pun hanya berkisar antara 800 sampai 900 unit. Pada tahun lalu jumlah armada jip yang diturunkan bisa mencapai 1.500 unit atau dikerahkan seluruhnya.

Dardiri menilai, salah satu faktor penyebab turunnya antusiasme wisatawan pada libur lebaran tahun ini karena jarak waktu yang tidak terlalu lama antara libur natal dan tahun baru.

Lalu ada kemungkinan lain seperti daya beli masyarakat yang menurun karena situasi ekonomi.

“Tapi karena ini baru hari ketiga, kami lihat nanti bagaimana perkembangannya,” katanya. (inu/pra)

Editor : Heru Pratomo
#pelaku wisata #perhotelan #jip wisata #Deddy Pranowo Eryono #phri