JOGJA - Mantan Bupati Kulonprogo periode 2011–2016 dan 2016–2019 Hasto Wardoyo dalam beberapa kegiatan dinas kerap menggunakan batik bermotif geblek renteng.
Hal tersebut menjadi cukup kontras di tengah dehastoisasi yang terjadi di Bumi Binangun.
Hasto tampak menggunakan motif batik dalam beberapa kesempatan.
Misalnya saat dia hadir di pelantikan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY periode 2025-2030 di kantor Gubernur Kepatihan Jogja pada tanggal 22 Januari 2026 lalu.
Politisi PDI Perjuangan itu kembali menggunakan motif batik geblek renteng pada acara silaturahmi dan buka bersama dengan manajemen PSIM di The Jogja Hotel & Conference Center, Sabtu (21/2/2026).
Di hari yang sama, Hasto juga menggunakan motif batik geblek renteng untuk meninjau Bazar Ramadhan Kampung Glagah yang digelar di depan Masjid Nurul Huda, Kelurahan Warungboto.
Alih-alih mengomentari ada pesan khusus terhadap upaya dehastoisasi di Kulonprogo.
Hasto menyatakan, sering menggunakan batik bermotif geblek renteng karena secara pribadi dirinya memiliki baju bermotif tersebut.
“Tidak ada hubungannya, itu kalau saya sering pakai karena saya punya baju itu,” ujar Wali Kota Jogja itu saat ditemui di sela rapat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Jogja yang diselenggarakan di Balai Kota Jogja, Senin (25/2/2026).
Alumni Fakultas Kedokteran UGM itu mengaku tidak elok mengomentari kebijakan kepala daerah di Kulonprogo.
Khususnya dalam upaya menghapus motif geblek renteng.
Dia memahami dan menegaskan kalau hal tersebut menjadi hak bagi pemimpin saat ini.
Hasto juga memandang, dinamika terjadi di Kulonprogo saat ini nantinya akan selesai melalui kearifan lokal masyarakat.
Dia juga enggan mengklaim motif geblek renteng merupakan warisan dirinya.
Di tengah banyaknya diskusi tokoh masyarakat maupun budayawan terkait dengan polemik motif tersebut saat ini.
“Itu bukan karya saya, kan itu karya budaya yang menjadi miliknya warga Kulonprogo. Saya kira, biar masyarakat lah yang lebih mencari solusi,” tandas Hasto.
Sebagaimana diketahui, di era kepemimpinan bupati Agung Setyawan penghapusan motif geblek renteng di Kulonprogo memang cukup masif.
Misalnya motif batik geblek renteng yang sebelumnya digunakan ASN, perangkat desa, dan pelajar se-Kulonprogo kini berganti batik motif Binangun Kertaraharja.
Kemudian, simbol geblek renteng yang ada pagar, gerbang, dan gedung sekolah juga mulai dihilangkan.
Hal tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 100.3.4/2/034/2026 yang ditandatangani Bupati Kulonprogo Agung Setyawan.
Salah satu poin edaran tersebut ada himbauan agar sekolah mengganti dengan cat warna kuning dan hijau pare anom (hijau muda).
Warna kuning dan hijau pare anom melambangkan kesuburan, harapan, kemakmuran dan kesejahteraan. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin