JOGJA - Isu pelayanan kesehatan menjadi salah satu fokus bagi Setyaji Hermawan. Hal tersebut sesuai bidang tugasnya di Komisi D DPRD Kota Jogja sebagai mitra dinas kesehatan (dinkes). Dia mendorong agar pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) lebih proaktif.
Sebab menurutnya, puskesmas merupakan garda terdepan pencegahan masalah kesehatan kronis. Baik itu yang menular maupun tidak. Sehingga dia berharap, ada peran lebih aktif dari puskesmas untuk terjun langsung ke masyarakat.
Aji menyebut, akan percuma jika fasilitas kesehatan di Kota Jogja yang sudah memadai secara kuantitas maupun fasilitas, namun tenaga kesehatannya tidak mengetahui kondisi riil di wilayahnya. Oleh karena itu, pendekatan proaktif kepada masyarakat masih perlu ditingkatkan.
“Saya ingin puskesmas lebih sering jemput bola ke kampung-kampung. Memastikan gizi anak-anak terpantau, kesehatan lansia terjamin, dan penyandang disabilitas mendapatkan pelayanan yang presisi,” bebernya kepada Radar Jogja Selasa (24/2).
Terlebih di Kota Jogja masih banyak anak-anak yang menderita kekurangan gizi atau stunting. Lantaran persentase prevalensinya mencapai 10,49 persen. Sehingga Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini mendorong agar puskesmas lebih masif melakukan antisipasi dan sosialisasi. Sebab jika tidak ada tindakan proaktif, dikhawatirkan prevalensi stunting akan stagnan atau bahkan bertambah.
Masalah stunting, lanjutnya, biasanya erat dengan kondisi kesejahteraan masyarakat. Sehingga dia menyarankan agar puskesmas bersinergi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk melakukan pendataan masyarakat miskin. Supaya alokasi bantuan nutrisi bagi keluarga berisiko stunting tepat sasaran.
Dalam tugasnya sebagai anggota legislatif, Aji juga memastikan bahwa anggaran sektor kesehatan selalu menjadi prioritas. Sehingga program-program penanganan dan pencegahan kesehatan tetap berjalan optimal setiap tahunnya.
Lebih lanjut, Aji juga ingin agar puskesmas pada setiap kemantren di Kota Jogja bisa menjadi pihak yang melakukan langkah mitigasi atau preventif terhadap penularan penyakit. Supaya penanganan bisa selesai di tingkat wilayah tanpa harus dinas turun tangan.
“Puskesmas jangan hanya menjadi tempat mengobati orang sakit. Tetapi harus lebih masif dalam melakukan edukasi dan pencegahan dini,” tegasnya. (*/inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita