Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Suhirman memastikan bahwa program MBG tetap terlaksana di bulan Ramadan.
Hal itu mengacu pada regulasi terbaru tentang distribusi makanan yang disesuaikan dalam bentuk kemasan sehat sebagai sarana buka puasa siswa.
"Skenario terakhir (MBG) tetap ada dan diberikan.Akan ada koordinasi antara pihak sekolah dengan Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG)," ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (22/2).
Badan Gizi Nasional (BGN) telah menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 3 Tahun 2026 tentang pelayanan program MBG pada periode Ramadan dan Idulfitri.
Dalam SE itu dijelaskan bahwa wilayah yang mayoritas penerima MBG menjalankan ibadah puasa, maka menu MBG siap santap dialihkan menjadi makanan kemasan sehat yang memiliki masa simpan lebih lama.
"Tujuannya supaya MBG itu bisa tetap dikonsumsi untuk berbuka puasa," bebernya.
Menindaklanjuti SE tersebut, Suhirman, sapaan akrabnya, akan melakukan pemantauan distribusi MBG edisi Ramadan di setiap sekolah.
Pemantauan tersebut bertujuan untuk memastikan kualitas dan higienitas makanan yang diterima siswa memenuhi standar yang sudah ditetapkan.
"Ada beberapa laporan dan teman-teman kami juga melakukan monitoring ke sekolah," jelasnya.
Dialog dengan pengelola sekolah juga terjalin. Beberapa dari pengelola sekolah bahkan menanyakan kepada Dindikpora DIY, apakah MBG bisa dialihkan untuk kegiatan buka puasa bersama di sekolah.
"Kalau misalnya sekolah mau mengadakan itu, koordinasi saja dengan SPPG. Karena itu sudah menjadi kewenangannya SPPG, kami biasanya sebatas melakukan monitoring saja," jelasnya.
Pendataan siswa dilakukan guna mengklasifikasi sekolah-sekolah mayoritas muslim dan non muslim. Hal itu bertujuan agar distribusi MBG bisa disesuaikan dan tidak mengganggu kekhusyukan siswa dalam beribadah.
"Ya, nanti didata. Apakah siswanya meminta untuk langsung dimakan di situ, atau bisa disamakan dengan kebijakan dari sekolah muslim untuk menghormati yang berpuasa. Nanti didata sesuai keinginan dari sekolah. Tapi kalau kami, inginnya ya tetap saling menghormati teman-teman yang sedang berpuasa di sekolah," katanya.
Terpisah, Orang Tua Siswa penerima MBG asal Sleman Winarsih mengatakan meskipun MBG menunya kering, para pengelola harus tetap memastikan standar gizi dari makanan tersebut.
Selain itu, waktu distribusi juga wajib diperhatikan agar tidak mengganggu siswa yang sedang belajar berpuasa.
"Makanan kemasan boleh, asal ada gizinya.Distribusinya juga jangan meruput-meruput, nanti ndak anak-anak kepingin. Pokoknya harus serba hati-hati," ujarnya.
Menurutnya, pembagian makanan pada siang hari berpotensi menjadi distraksi bagi siswa yang sedang menahan lapar dan dahaga. Pembagian MBG diusulkan menjelang para siswa pulang sekolah.
“Jadi menurut saya kebijakannya sudah tepat, tapi pelaksanaannya harus sangat teknis dan detail,” tegasnya.
Selain teknis distribusi, ia juga menyoroti kaitannya dengan transparansi pelaksanaan program MBG selama Ramadhan. Transparansi yang dimaksud dalam hal ini adalah anggaran dan khususnya terkait pemantauan.
"Pemantauan kalau bisa jangan hanya dinas pendidikan, tapi libatkan juga komite sekolah sebagai perwakilan wali siswa," tegasnya. (Oso)
Editor : Bahana.