Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

AP I Desain Ruang Terbuka Hijau

Editor News • Sabtu, 4 Februari 2017 | 18:54 WIB
Photo
Photo
Manfaatkan Lahan

Area Bawah SUTET
JOGJA - Beberapa minggu ke depan PT Angkasa Pura (AP) I mulai mengerjakan ruang terbuka hijau bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA). Ruang terbuka hijau akan memanfaatkan area di sekitar saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET).
Group Head Project Management Office PT AP I Widodo mengatakan, lahan yang akan dibangun bandara memang tidak semuanya bisa didirikan bangunan, terutama di area bawah SUTET. Untuk itu, pihaknya akan memanfaatkan area tersebut sebagai ruang terbuka hijau.
"Di sana nantinya akan menjadi semacam hutan kota," ujarnya usai raker bandara NYIA di Komisi C DPRD DIJ, kemarin (3/2).
Dikatakan, area terbuka hijau akan dibuat di sepanjanh SUTET yang melintasi lahan bandara. Untuk membuatnya menjadi hutan kota, pihaknya sudah mulai menyelamatkan pohon-pohon yang ada di lahan bandara dan akan dipindah ke area bawah SUTET.
Menurutnya, cara itu akan lebih efektif karena di lahan bandara banyak terdapat pohon-pohon besar yang sayang hanya jika ditebang begitu saja. "Jadi nanti ketika bandara jadi, pohon-pohonnya sudah besar-besar," katanya
Ditambahkan, keberadaan SUTET di lahan bandara tidak akan mengganggu penerbangan. Ini karena jaraknya berada di sekitar 1 hingga 1,5 km dari runway.
Saat ini, pihaknya juga sudah menggarap pemagaran yang nantinya akan dibuat mengeliling dengan panjang sekitar 23 km. "Sudah mulai pemagaran, terutama di area-area yang sudah beres pembebasannya," tambahnya.
Sebelumnya, dalam rapat kerja itu Komisi C mengapresiasi upaya PT AP I menjadikan lokasi calon bandara sebagai kawasan hijau. Termasuk tidak menebang pohon-pohon besar. "Ini kebijakan bagus. Menanam pohon itu butuh puluhan tahun, kalau menebang mungkin cukup sehari," ujar anggota Komisi C Totok Hedi Santoso.
Legislator yang dikenal peduli dengan isu lingkungan itu sempat mengkritisi kebiasaan birokrat yang demikian gampang menebang pohon. Pengalaman itu seperti terjadi saat puting beliung yang melanda daerah tempat tinggalnya. Puluhan pohon berumur puluhan tahun langsung ditebangi tak lama setelah kejadian. "Usut punya usut ternyata motivasinya proyek," sesalnya.
Totok meminta dalam menyelesaikan pembangunan bandara baru, target selesai pada Maret 2019 harus dipedomani. "Jangan sampai mundur, apalagi bilang sakit perut gara-gara ada target dari presiden," harap politikus yang selama rapat banyak melempar joke-joke segar yang membikin rapat kerja berjalan cair.
Totok juga setuju dengan usulan koleganya sesama anggota Komisi C Agus Sumaryanto yang ingin wajah dan isi bandara baru mencerminkan kearifan lokal. Termasuk dalam sajian hidangan yang ada di bandara, harus dapat mewakili citra Jogja.
"Kalau soal makanan seperti gudeg, ya to Gus. Mengko 10 persen, aja lali (nanti komisinya 10 persen, jangan lupa)," kelakar kader PDIP yang mengundang geer.
Omongan Totok itu menimpali ide Agus agar arsitektur dan makanan yang ada di bandara baru harus menunjukan identitas Jogja. Gudeg, salah satu maknan khas kota ini. "Jadi orang ke bandara merasa kerasan," ucap pemilik Gudeg Bu Ahmad ini.
Anggota Komisi C Suroyo lebih menyoal sumber dana pembangunan bandara di tengah kesulitan anggaran negara dan kelesuan ekonomi nasional. Dia juga mengkritisi terus dibangunnya fasilitas Bandara Adisutjipto di tengah rencana dipindahnya bandara ke Kulonprogo.
"Apakah kelak Adisutjipto dibuat seperti Halim Perdanakusuma," ujarnya. Menanggapi pertanyaan Suroyo itu, Widodo menyatakan sumber dana pembangunan bandara Kulonprogo berasal dari pinjaman bank, obligasi dan mitra strategis. "Mitra strategis ini sedang kami kembangkan," jelasnya.
Untuk pengadaan tanah telah dikeluarkan dana Rp 4,1 triliun dan pembangunan infrastruktur Rp 5,2 triliun. Sedangkan pembangunan fasilitas di Adisutjipto semata-mata demi pelayanan. "Tentang pengelolaan Adisutjipto ke depan belum kami bahas. Butuh persetujuan menteri perhubungan," kilah pria yang tinggal di belakang Pasar Condongcatur, Sleman, ini. (dya/kus/laz/mg1) Editor : Editor News
#Bandara #NYIA #Angkasa Pura