JOGJA - Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Jogja memastikan belum bisa melakukan pembangunan ulang Jembatan Buntung, Tegalrejo tahun ini.
Sebab ada berbagai kendala. Maka, penanganannya baru dapat dilakukan dengan penguatan.
Kepala Bidang Jalan dan Jembatan DPUPKP Kota Jogja Hasri Nilam Baswari mengatakan, pembangunan ulang Jembatan Buntung terkendala kondisi di wilayah tersebut.
Salah satunya karena masalah kebocoran pipa instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di bawah infrastruktur jembatan.
Kemudian, kata Nilam, juga karena perbaikan talut secara permanen juga belum dilakukan.
Sebab penanganan sementara di lokasi tersebut pasca-ambrol baru dilakukan dengan pemasangan bronjong. Di sisi lain ketersediaan anggaran juga belum ada.
“Karena kalau pipa penggelontor limbah yang pecah dan talut belum diperbaiki, perbaikan jembatan tidak akan efektif,” ujar Nilam di Balai Kota Jogja, Senin (2/2/2026).
Nilam menjelaskan, penanganan sementara di Jembatan Buntung baru bisa dilakukan dengan grouting.
Yakni penyuntikan material pada rongga-rongga struktur bangunan yang kosong pascakejadian talut ambrol beberapa waktu lalu.
Menurutnya, penanganan melalui grouting sudah cukup kuat. Sebab secara umum infrastruktur Jembatan Buntung masih bagus. Karena jembatan hanya mengalami keretakan di plat lantai saja.
“Jadi awal permasalahannya karena pipa penggelontor yang pecah, lalu membuat lantai jembatan turun dan talut pecah, selain itu juga ada beban bangunan yang seharusnya tidak ditempatkan di atas talut,” bebernya.
Pantauan Radar Jogja Senin (2/2/2026) siang, alat berat eksavator sudah diturunkan di lokasi talut ambrol.
Perataan tanah juga telah tampak dilakukan. Namun alat berat terlihat tidak beraktivitas.
Sebagaimana diketahui, ambrolnya talut Sungai Buntung diakibatkan hujan deras pada pertengahan Januari lalu.
Peristiwa itu juga mengakibatkan Balai RT 57 Bangunrejo yang berdiri di atas talut roboh.
Warga sekitar jembatan bernama Isnedi menilai, pembangunan ulang Jembatan Buntung sudah seharusnya dilakukan.
Sebab pondasi jembatan tergerus aliran air sungai. Pun jembatan itu merupakan infrastruktur vital penghubung antara Kampung Pingit dengan Kampung Bangunrejo.
“Warga khawatir kalau jembatannya sampai runtuh nanti rumah-rumah di sekitarnya juga terdampak,” beber Isnedi yang juga merupakan pengurus RT 11 Bumijo ini. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita